Di Antara Buku Tulisan Asli Dengan Tulisan Hasil Ai.

Di Antara Buku Tulisan Asli  Dengan Tulisan Hasil  Ai. 
 
Di zaman sekarang, orang yang gemar membaca buku dan mengoleksinya sesungguhnya masih banyak. Namun justru di masa inilah, semakin sedikit orang  yang menulis dengan tangan sendiri — banyak yang beralih memakai AI atau kecerdasan buatan. Tulisan yang dihasilkan mesin terasa terlalu seragam, kaku, dan berbau robot; berbeda jauh dengan tulisan tangan yang mengalir alami, menyimpan napas dan perasaan penulisnya, serta terasa jauh lebih enak untuk dibaca. Membaca buku itu bukan sekadar menyerap informasi, melainkan kegiatan yang bersifat aktif: menuntut disiplin tubuh yang tenang dan pikiran yang terpusat sepenuhnya pada apa yang dipahami.
 
Dahulu Profesor Neil Postman dalam bukunya Menghibur Diri Sampai Mati telah mengingatkan bahwa televisi mungkin tidak akan pernah sepenuhnya menggantikan buku, namun telah berhasil menggeser kedudukannya sehingga buku tak lagi dianggap sesuatu yang menarik. Kini hal serupa sedang terjadi dengan kecerdasan buatan. Teknologi ini semakin populer, terasa menggiurkan, dan perlahan mengubah kebiasaan manusia — kemampuan berpikir, membaca, dan menulis perlahan kehilangan tempatnya, seolah tidak lagi dianggap penting. Bagi mereka yang sejak masa televisi mulai marak tak pernah mengenal kedalaman membaca, apalagi menulis, kini menghadapi masa teknologi baru, ungkapan itu tetap berlaku: apa yang akan terjadi, biarlah terjadi.
 
Gus Hairus Salim pernah berkata bahwa kini jumlah penulis justru lebih banyak daripada pembaca — namun banyak tulisan itu bukan hasil renungan sendiri, melainkan buatan mesin. Inilah mungkin yang diramalkan Pitirim Sorokin sebagai tanda senjakala kebudayaan: tradisi menulis dan membaca perlahan lenyap, seakan dipadamkan secara perlahan, dan manusia menerimanya dengan senang hati. Di Perancis, negeri yang dikenal sebagai bangsa pembaca, semangat mencintai buku terus dijaga dan diingatkan kembali kepada generasi muda, menyadarkan bahwa kebiasaan ini bukan sekadar hobi, melainkan fondasi kebudayaan.
 
Sebagai orang yang sehari-hari hidup di antara tumpukan buku, penulis pun ikut merasakan kegelisahan yang sama. Informasi memang didapatkan dengan sangat cepat lewat teknologi, namun keindahan membuka lembar demi lembar, merenungkan makna di tiap kalimat, dan meresapi perjalanan batin yang terjadi saat membaca — itulah yang perlahan hilang. Dampaknya pun mulai terasa: kemampuan berpikir perlahan menjadi dangkal, kedalaman pemahaman semakin menipis. Pada akhirnya, segala perubahan ini kembali kepada manusia itu sendiri. Bagi mereka yang menempuh jalan ilmu, buku tetaplah kebutuhan yang tak tergantikan — di situlah kebenaran tersimpan, lengkap dengan halaman, kutipan, dan kedalaman yang tak bisa dihasilkan sekadar perintah kepada mesin.
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sugesti Bali dan Pertemuan Dua Cara Memahami Dunia

Kisah Jayapangus dan Kang Cing Wie Antara Sejarah Dan Legenda.