Kisah Jayapangus dan Kang Cing Wie Antara Sejarah Dan Legenda.

Kisah Jayapangus dan Kang Cing Wie Antara Sejarah Dan Legenda. 
 
Raja Sri Jayapangus adalah tokoh sejarah yang nyata, yang memerintah di Bali sekitar tahun 1178–1181 M. Ada 43 prasasti Plat tembaga peninggalannya yang membuktikan keberadaan beliau. Namun cerita yang kini banyak dikenal — tentang cinta Raja Jayapangus dengan putri Cina bernama Kang Cing Wie, kisah cinta segitiga dengan Dewi Danu, hingga kutukan yang menjadikan keduanya Barong Landung — ternyata bukan catatan sejarah sezaman, melainkan cerita rakyat yang lahir ratusan tahun kemudian.
 
Dalam prasasti asli, nama istri Raja Jayapangus tercatat dengan jelas: Paduka Bhatari Sri Parameswari Indujaketana dan Paduka Sri Mahadewi Shashankaja Cihna. Tidak satu pun prasasti yang menyebut nama Kang Cing Wie, saudagar Cina, maupun pernikahan dengan putri dari negeri seberang. Cerita itu baru ditemukan di lontar-lontar Purana, Geguritan, dan Kekawin Barong Landung yang ditulis jauh setelah masa pemerintahan Jayapangus. Bahkan penelitian dari Universitas Udayana menemukan bahwa cerita aslinya sebenarnya berkisah tentang Sri Mayadanawa, bukan Jayapangus, yang kemudian melekat pada nama Jayapangus karena keduanya sama-sama berkeraton di kawasan Balingkang.
 
Penafsiran yang muncul pun sering kali bersifat cocoklogi. Nama Balingkang diartikan sebagai "Bali milik Kang", padahal secara bahasa hal itu tidak tepat. Arca Barong Landung yang perempuan bermata sipit dan berwajah putih langsung dihubungkan sebagai orang Cina, padahal itu lebih merupakan interpretasi visual untuk kebutuhan pariwisata, bukan bukti arkeologi.
 
Tujuan awal lahirnya cerita ini sebenarnya mulia: untuk menggambarkan kebersamaan dan akulturasi antara masyarakat Bali dan Tionghoa yang memang sudah berlangsung sejak lama, serta menjelaskan keberadaan Pura Dalem Balingkang dan Pelinggih uang kepeng Cina di sana. Namun ketika cerita ini dianggap sebagai fakta sejarah yang sebenarnya, hal itu justru berisiko mengaburkan identitas asli Raja Jayapangus dan menempatkan legenda di atas catatan sejarah yang terbukti.
 
Akulturasi Bali–Cina di abad ke-12 memang nyata adanya. Pura Balingkang memang ada dan dihormati. Yang perlu diluruskan hanyalah satu hal: narasi romantis cinta dan kutukan itu adalah legenda yang indah dan berharga sebagai perekat persaudaraan, tetapi bukan fakta sejarah yang tertulis di prasasti. Membedakan keduanya bukan berarti meruntuhkan nilai cerita tersebut, melainkan menghormati sejarah sebagaimana adanya, sekaligus menghargai keindahan cerita rakyat sebagaimana mestinya. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sugesti Bali dan Pertemuan Dua Cara Memahami Dunia

Di Antara Buku Tulisan Asli Dengan Tulisan Hasil Ai.