Apakah Boleh Memakai Pewarna Pada Kembang Rampe Untuk Canangsari?
Apakah Boleh Memakai Pewarna Pada Kembang Rampe Untuk Canangsari?
Walaupun tidak ada petunjuk dalam sastra tentang penggunaan Kembang Rampe yang memakai pewarna untuk Canangsari, hal itu jelas bertentangan dengan Tatwa, etika, dan upakara. Niatnya pun bukan untuk menyucikan, melainkan menyiasati — menyembunyikan bahwa bunga atau daun yang sudah kering dan tak layak, agar tampak seolah masih segar. Apakah persembahan yang menipu itu tetap layak? Dulu tanpa pewarna pun canang tetap indah dan bermakna; baru kemudian muncul ide mengelabui dengan warna buatan. Inilah wajah jaman Kaliyuga: yang semula tidak pantas, perlahan dianggap lumrah, lalu dibiarkan seolah-olah benar.
Namun kebijaksanaan tak tergantung sepenuhnya pada tulisan kitab. Di sinilah letak Viveka — daya membedakan antara baik dan buruk, nyata dan pura-pura, yang sejati dan yang tampak. Bukan berarti segala yang belum tertulis pasti salah. Manusia diberi akal: mengenal warna, angka, arah, tempat, lalu menggunakannya dengan tepat. Mengapa tidak memakai warna yang alami, yang berasal dari tanaman, bunga, dan getah yang sudah dikenal aman?
Namun perhatikan satu hal yang mendesak: kembang rampe kerap dimasukkan ke dalam Tirta Wangsuhpada, lalu airnya diminum bersama-sama. Pewarna hijau buatan itu zat kimia yang kandungannya tidak diketahui — bisa saja berbahaya. Maksud kita mencari ketenangan, justru mendatangkan risiko keracunan. Persembahan yang tujuannya menyucikan, tidak boleh membawa kotoran ke dalam tubuh dan jiwa.
Maka bukan soal boleh atau tidak boleh, melainkan apa yang mewarnai: keaslian atau kepura-puraan, kebaikan atau kemasan, keselamatan atau bahaya. Jika daun sudah layu, gantilah dengan yang segar; jika ingin berwarna, carilah dari alam yang murni. Itulah persembahan yang jujur: memberi apa yang sungguh-sungguh baik, bukan sekadar terlihat baik.
Komentar
Posting Komentar