Apakah Orang Bali Beragama Hindu?
Apakah Orang Bali Beragama Hindu?
Kepercayaan asli Bali sejatinya adalah penghormatan kepada leluhur yang berlangsung terus sampai hari ini. Yang distanakan di Merajan, di pelinggih rong telu, adalah roh leluhur dan Bhatara Guru — dan itulah yang senantiasa dilaksanakan oleh umat Hindu etnis Bali. Hindu hanyalah kulitnya; inti yang hidup dan tidak pernah putus adalah penghormatan kepada mereka yang telah mendahului, yang senantiasa hadir di tengah-tengah keluarga.
Agama yang sungguh-sungguh lestari di tanah ini adalah Agama Tirta. Dalam setiap persembahyangan, dalam setiap upacara dan bebantenan, segala sesuatu diselesaikan dengan Nyiratang Tirta — memercikkan air suci. Tirta itu adalah simbol dewa Wisnu, sumber kehidupan yang menyatu dengan segala yang ada. Tirta menjadi jembatan, menjadi penyucian, menjadi tanda bahwa yang suci itu mengalir, hidup, dan menyentuh kita semua.
Namun kini agama kerap dijadikan instrumen politik. Ketika orang berbicara atas nama agama, kerap tersembunyi kepentingan di balik jubah kesakralan. Kebenaran diubah menjadi perintah, perbedaan dianggap musuh, keadilan seolah-olah hanya milik satu kelompok tertentu. Semua dikemas dengan penuh sakral, padahal yang dihidupkan bukanlah kasih, melainkan pembatasan dan kekuasaan. Itulah realita yang terjadi.
Sangat jarang anak muda Bali yang cerdas sekaligus kritis. Beragama lah dengan kecerdasan dan kesadaran, bukan karena keharusan yang lahir dari tekanan maupun ketakutan. Monoteisme yang awalnya dirumuskan sebagai strategi politik — termasuk pemakaian nama Sang Hyang Widhi Wasa — kini justru menjebak kita sendiri. Inilah yang disebut sebagai strategic essentialisme, cara berpikir yang melenyapkan keberagaman menjadi satu bentuk yang baku, seragam, dan tunggal.
Saya teringat jawaban seorang anak kecil yang saat itu berusia tujuh tahun. Ketika ibunya bertanya, "Kalau Hindu, Tuhan tertinggi itu siapa?" anak itu menjawab dengan polos, "Rangda" Langsung ibunya marah dan membentak, "Itu jawaban salah! Tuhan tertinggi adalah Sang Hyang Widhi Wasa." Jawaban anak itu bukan salah, melainkan cerminan apa yang sungguh-sungguh ia rasakan dan temui sehari-hari. Namun keseragaman nama telah mengajarkan kita untuk menyembunyikan pengalaman sendiri demi menyesuaikan dengan satu nama yang ditetapkan. Cara berpikir seperti ini perlahan-lahan menghapus kebhinekaan, melawan filsafat yang hidup — ruang, waktu, desa, kala, dan patra — sehingga bukannya menjadi lebih maju, kita justru terperangkap dalam kerangka yang sempit.
Secara administratif, masyarakat Bali mencatat perubahan penamaan keyakinan menjadi Agama Hindu Bali atau Hindu Dharma sekitar tahun 1952. Penyesuaian itu dilakukan agar diakui, agar ada tempat, agar diterima. Namun penyesuaian itu perlahan mengubah wajah yang asli, menyamakan yang beragam, menyatukan yang sejatinya tak dapat disatukan dalam satu nama saja. Leluhur kita mengenal banyak jalan, banyak nama, banyak wujud kehadiran Yang Maha Esa. Keragaman itulah yang sebenarnya terkikis ketika satu nama dijadikan satu-satunya kebenaran.
Komentar
Posting Komentar