Apakah Tuhan Dapat Dilihat?

Apakah Tuhan Dapat Dilihat?
 
Dalam kekawin Arjuna Wiwaha, terdapat satu bait yang sangat indah dan mendalam: hanya tempayan yang berisi air jernih dan tenang, bayangan bulan purnama akan tampak jelas di permukaannya. Jika airnya keruh, berdebu, atau bergolak, cahaya bulan tidak akan tercermin. Bukan karena bulan tidak bersinar, melainkan karena wadahnya belum mampu menampakkan keindahan itu.
 
Demikian pula halnya dengan hati manusia. Hanya hati yang bersih, tenang, dan jernih — bebas dari rasa iri hati, gelombang nafsu, dan debu kepura-puraan — yang mampu memantulkan kehadiran Tuhan. Bukan karena Tuhan jauh atau tersembunyi, melainkan karena hati yang kacau tidak dapat memandang-Nya. Ketika hati dijernihkan melalui kesabaran, kejujuran, dan pengendalian diri, cahaya Yang Maha Esa akan tampak di sana, sejelas bayangan bulan di tempayan yang tak terganggu. Maka, bukan mata fisik yang melihat, melainkan hati yang menyucikan diri. Barangsiapa yang membersihkan hatinya, maka ia sedang menyiapkan tempat bagi-Nya untuk tampak.
 
Untuk membuktikan bahwa Tuhan itu ada, terlebih dahulu lihatlah sebuah pohon, dan di sana terlihat nyata wujud Tri Murti. Tanpa disuruh dan tanpa dibantu, ia menumbuhkan dahan, daun, bunga, dan buah. Itulah perwujudan Dewa Brahma, Sang Pencipta, yang bekerja menumbuhkan segala sesuatu dari dalam ke luar.
 
Sementara pertumbuhan itu berlangsung, daun tetap hijau, bunga mekar dan buah membesar. Semuanya terjaga dan hidup. Di sinilah Dewa Wisnu, Sang Pemelihara, hadir menjaga agar kehidupan berjalan terus, tumbuh dan berkembang sampai waktunya.
 
Lalu ketika daun mulai menguning, dahan menjadi lapuk, dan buah yang sudah matang berguguran, itu bukan kerusakan. Melainkan tugas Dewa Siwa, Sang Pelebur. Yang sudah tua kembali ke tanah, agar yang baru dapat tumbuh. Pohon tidak menahan apa yang harus pulang, dan di pelepasan itulah keseimbangan terjaga.
 
Pohon itu satu, namun ketiga kuasa itu bekerja di dalamnya secara bersamaan. Demikian pula dengan alam semesta dan diri kita sendiri — menciptakan, menjaga, dan melepaskan adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan.
 
Untuk menjawab pertanyaan yang sama,  saya juga ibaratkan seperti kabel listrik yang terbentang tinggi di atas — kita tidak dapat  melihat arus yang mengalir di dalamnya, namun kita tahu energi itu ada. Kita tidak meragukannya, justru kita berhati-hati mendekatinya karena kita paham apa yang terjadi jika kita memegangnya. Demikian pula dengan Yang Maha Esa: segala yang ada di atas dan di sekitar kita adalah energi yang tak terbatas, tak terlihat, tak terjangkau oleh mata kasar, namun sungguh-sungguh ada. Itulah hukum alam yang mengatur segala sesuatu.
 
Tentu saja, cara memahami dan merasakan kehadiran-Nya berbeda-beda bagi setiap orang. Tingkat kesucian, pengetahuan, keyakinan, dan kecerdasan masing-masing tidak sama — seperti tingkatan bejana yang menampung air, ada yang penuh, ada yang sebagian, ada yang sedikit. Karena itu, janganlah menyamakan kemampuan seseorang dengan orang lain. Setiap orang berjalan menurut usahanya, pemahamannya, dan cahayanya sendiri.
 
Sebelum berusaha memahami siapa beliau, kenalilah dirimu terlebih dahulu. Sebelum engkau memahami jati dirimu yang sejati, engkau tidak akan mampu mengenal-Nya. Ada kebenaran yang mendalam di sana: engkau adalah bagian dari Aku, namun engkau belumlah sepenuhnya Aku. Jika segala yang ada adalah Tuhan, maka Tuhan pula ada dalam segala nama dan segala rupa. Bukan karena rupa beliau berubah-ubah, melainkan karena Ia menampakkan diri melalui segala yang ada, dan setiap mata memandang-Nya sesuai dengan apa yang mampu ia pahami.
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sugesti Bali dan Pertemuan Dua Cara Memahami Dunia

Di Antara Buku Tulisan Asli Dengan Tulisan Hasil Ai.

Kisah Jayapangus dan Kang Cing Wie Antara Sejarah Dan Legenda.