Menghakimi Bukan Bukti Beriman.
Menghakimi Bukan Bukti Beriman
Orang yang gemar menghakimi dan meragukan kepercayaan orang lain, sesungguhnya itulah tanda bahwa hatinya belum sungguh percaya dan mengenal Tuhan. Anehnya, justru orang-orang seperti inilah yang paling lantang menyuarakan kesucian Tuhan, seolah merekalah penjaga kebenaran tunggal. Padahal mengenal Tuhan seharusnya melahirkan kerendahan hati, bukan kekerasan yang menghakimi. Siapa yang sungguh merasakan keagungan Tuhan, ia akan menyadari bahwa kasih-Nya meluas tanpa sekat, dan keyakinan setiap orang adalah perjalanan pribadi antara dirinya dan Penciptanya.
Dalam menghadapi perbedaan maupun konflik, jalan yang paling luhur adalah tetap bersabar dan menjaga ketenangan hati. Ketenangan bukan kelemahan, melainkan kekuatan yang menjaga kita agar tidak terjerumus ke dalam amarah yang membutakan. Biarlah setiap orang berjalan menurut cahayanya sendiri; Tuhanlah yang mengetahui isi hati masing-masing. Yang terpenting, kita menjaga kebersihan batin dan kesabaran, itulah penghormatan tertinggi kepada Tuhan yang Maha Adil.
Bayangan, Cahaya, dan Perjalanan Sejati
Setiap manusia pasti memiliki Nyama Papat atau saudara empat Sejak lahir. Kemana pun kita pergi, Dia selalu mengikuti kita. Nyama Papat harus dikendalikan, bukan dibiarkan menuntun. Nyama Papat wajar selalu mengikuti kita. Makanya sebelum melangkah, kita harus membayangkan apa yang akan dilakukan, merencanakan, mempertimbangkan. Namun jangan sampai bayangan itu berubah menjadi hantu yang menghantui kita setiap langkah. Ia mengikuti ke mana pun kita pergi; janganlah kita yang mengikutinya. Tetaplah tegak, hati senantiasa waspada.
Kegelapan disebut juga Awidya atau kebodohan dan ketidaktahuan. Untuk menghilangkan kegelapan, diperlukan Widya atau pengetahuan yang menerangi. Makanya dalam Hindu ada Hari Saraswati, turunnya ilmu pengetahuan . Namun yang lebih dalam lagi adalah Banyu Pinaruh: saat diri dibersihkan, disadari, dan diarahkan kembali pada hakikatnya. Mengetahui hakikat diri hanyalah permulaan. Di situlah perjalanan sejati baru dimulai.
Mengenal diri adalah jalan mengenal Tuhan. Hidup ini bagaikan panggung sandiwara . Kita adalah pelakunya, diberi peran dan naskah. Apakah kita memerankan dengan baik sesuai arahan Sutradara, atau berimprovisasi sesuka hati sendiri? Jika dijalani dengan tulus dan tepat, pahala akan menyusul. Jika mampu menginspirasi banyak orang, kemuliaan sejati akan diperoleh. Bayangan itu pun diserap dan diubah menjadi cahaya melalui perenungan, doa, dan perbuatan nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Pepatah Jawa mengatakan: Urip iku urup yang artinya hidup itu menyala. Ilmu yang benar melahirkan adab, akhlak, dan kebaikan. Sebaliknya, ada yang berusaha tampak bercahaya dengan cara menggelapkan cahaya orang lain — padahal dirinya sendiri tak pernah sungguh-sungguh terang. Setiap masukan dianggap serangan, kritik dianggap penghinaan, tak pernah memberi solusi, hanya menghakimi tanpa akhir. Cahaya sejati tak perlu memadamkan api orang lain agar dirinya tampak terang. Ia cukup menyinari, dan itulah yang paling meyakinkan.
Antara Wahyu dan Kehidupan.
Benar sekali. Bahwa setiap kitab tertulis di atas kertas, ditulis dengan tinta, disalin dan dikumpulkan oleh tangan manusia. Banyak yang menghafal ayat namun lupa menjadi manusia. Namun perlu diluruskan. Tidak ada agama yang menyatakan Tuhan menulis dengan pulpen. Yang diyakini adalah Tuhan mengilhami; manusia mencatatnya dengan bahasanya, sesuai zamannya. Itulah cara beliau berbicara — melalui kehidupan yang dialami, lalu dicatat agar tak terlupakan.
Kitab tertulis dan kitab kehidupan bukanlah lawan, melainkan pasangan. Kitab yang tertulis bagaikan peta; peta bukan gunungnya, tetapi tanpa peta banyak yang tersesat. Masalahnya bukan pada peta, melainkan ketika orang memuja peta dan tak pernah mendaki gunungnya. Kitab yang benar seharusnya justru mengajak kita keluar dari lembaran menuju kehidupan yang nyata — menjadi lebih peka, lebih peduli, lebih manusiawi. Jika setelah membaca kitab, seseorang justru menjadi pembenci, menghakimi, dan memaksa kehendak orang lain , maka ia telah salah membacanya.
Namun gagasan bahwa "kitab kehidupan di dalam dada" sudah cukup tanpa pedoman yang diturunkan, perlu dipahami dengan jernih. Tanpa standar yang objektif, setiap orang dapat menafsirkan suara hatinya sesuka hati — pencuri merasa benar, penindas merasa berhak, dan hawa nafsu disamakan dengan kehendak Yang Maha Tinggi. Hukum rimba akan menggantikan keadilan jika tidak ada pedoman yang melampaui keinginan diri sendiri.
Media penulisan tidak mengubah keaslian pesannya. Surat cinta tetaplah pesan kekasih meski ditulis di atas kertas; akta warisan tetap sah meski ditulis tangan. Tuhan tidak bersembunyi di balik halaman agar dijauhkan dari kita. Kitab diturunkan agar akal tidak tersesat dalam kegelapan keinginan diri sendiri. Membaca kitab tertulis untuk memahami kehidupan, dan merenungi kehidupan untuk memahami kitab — keduanya berjalan beriringan. Yang satu menuntun arah, yang lain membuktikan kebenaran di setiap langkah. Jangan buang peta, tetapi jangan pula lupa mendaki. Sebab tujuan akhir bukan lembaran yang dipegang, melainkan kedamaian yang sampai ke hati.
Komentar
Posting Komentar