Bebas dari Aturan, atau Terperangkap Diri Sendiri?
Bebas dari Aturan, atau Terperangkap Diri Sendiri?
Narasi yang menganggap semua agama hanyalah buatan manusia ternyata runtuh di titik awal. Bahwa disampaikan manusia, tidak berarti diciptakan manusia — seperti berita yang disampaikan seseorang tidak serta-merta menjadi berita buatan orang itu. Keraguan bukanlah bukti kebenaran; meragukan tidak otomatis berarti menemukan kebenaran. Jika ingin membuktikan wahyu mustahil dari Tuhan, tunjukkanlah buktinya, jangan sekadar mengulang asumsi. Dan jangan merasa paling benar hanya karena berhasil meruntuhkan keyakinan orang lain — skeptisisme bukanlah kebenaran, melainkan keraguan yang belum diuji.
Ada yang pernah melewati jalan itu: menganggap aturan semuanya buatan manusia, berhak membuat aturan sendiri, yang kuat menang, yang diinginkan harus didapat, tak peduli milik siapa. Hingga suatu saat merenung: jika semua orang berpikir demikian, di mana keadilan? Di mana kebenaran? Kebebasan yang dijalani ternyata bukan kebebasan, melainkan perbudakan pada hawa nafsu sendiri.
Menyebut diri bebas sementara hanya berpindah dari satu dogma ke dogma lain — dari ketaatan kepada ketidakpercayaan — bukanlah kemerdekaan. Itu sekadar pindah tempat menyewa: sempat di aturan agama, kini di aturan sinisme. Sama-sama sempit, sama-sama terkurang dalam pandangan sendiri. Kebebasan sejati bukan tidak percaya pada apa pun, melainkan berani bertanya kembali ke dalam diri: apakah ketidakpercayaan ini juga sekadar kesombongan?
Yang menolak wahyu atas nama akal sehat pun tidak menyadari: hampir semua yang dipercayainya — sejarah, peta, ilmu sains — juga berasal dari cerita, tulisan, dan warisan manusia. Mengapa diterima itu lalu ditolak yang lain? Ini bukan berpikir kritis, melainkan ketidakkonsistenan yang dibungkus sebagai kebijaksanaan. Kekecewaan pada oknum tidak boleh dijadikan alasan menolak Yang Maha Esa; luka pada manusia bukan alasan memutuskan hubungan dengan Pencipta.
Agama bukan lahir dari kebingungan manusia, melainkan wahyu dari Yang Menciptakan. Akal tidak dilarang, justru dihormati — ilmu pengetahuan tumbuh subur di bawah bimbingan wahyu. Namun akal adalah alat untuk memahami, bukan hakim yang berhak mengubah baik dan buruk sesuai keinginan sendiri. Tanpa pedoman yang mutlak, ukuran "baik" akan berubah-ubah mengikuti arus zaman, diatur oleh siapa yang berkuasa.
Pada akhirnya, mereka yang mengaku merdeka dari Tuhan sebenarnya sedang memenjarakan diri di dalam selera diri sendiri. Kemerdekaan sejati bukan bebas dari aturan-Nya, melainkan bebas dari perbudakan hawa nafsu. Kebenaran tidak runtuh karena dicaci, dan akal tidak mulia jika dipakai melawan Yang memberinya kemampuan berpikir. Kembalilah bertanya ke dalam diri, sebelum menunjuk ke luar.
Komentar
Posting Komentar