Bersih Bukan Berarti Kosong.
Bersih Bukan Berarti Kosong
Membersihkan batin bukan berarti membuang semua perasaan. Banyak yang keliru menganggap: marah dibuang, sedih dibuang, kecewa dibuang, takut dibuang, iri dibuang — lalu yang tersisa hanya senyum paksa yang tak sesuai kenyataan. Padahal wajar jika merasa kesal, sedih, atau kecewa. Itu bukan kotoran, itu perasaan manusiawi. Boleh marah dulu, boleh bersedih, asal tahu cara meluapkannya dengan benar dan tidak menyakiti orang lain. Menahan terus justru bisa menjadi penyakit, menumpuk hingga meledak atau merusak diri sendiri.
Ada cara melepaskan beban pikiran: tuliskan semuanya, tuangkan segala uneg-uneg sampai tak ada kata tersisa. Itu bukan memikirkan keburukan, melainkan mengosongkan cangkir yang sudah penuh agar bisa menerima hal baru. Seperti ajaran bijak: kosongkan dulu wadahnya, baru ia berguna kembali.
Setiap orang punya batas kesabaran yang berbeda. Ada yang mudah tersinggung, ada yang baru marah jika sudah keterlaluan. Cara meluapkannya pun bermacam-macam. Yang penting, orang di sekitar kita paham sifat kita — bahwa saat marah memang begini, dan setelah reda hatinya tetap baik. Lebih baik meluapkan secara wajar daripada dipendam sampai menjadi penyakit.
Bandingkanlah: setetes tinta masuk gelas, airnya langsung berubah. Tetapi tinta yang sama jatuh ke lautan, tak terlihat pengaruhnya. Jadi bukan sekadar berusaha menjadi kosong, melainkan memperluas ruang hati. Perbesar jiwamu, maka hal kecil tak lagi mengganggu. Jangan terjebak mengejar kekosongan yang tak berisi apa-apa. Perbesar tempatnya, maka ruang kosong itu akan siap menerima kebaikan, kebijaksanaan, dan kedamaian yang datang.
Komentar
Posting Komentar