Bhagavad Gita, Bungkusnya Smrti, Isinya Sruti.
Bhagavad Gita, Bungkusnya Smrti, Isinya Sruti.
Bhagavad Gita memegang kedudukan yang sangat istimewa, karena memiliki dua sifat sekaligus. Secara struktur, Bhagavad Gita adalah bagian dari Mahabharata, tepatnya terdapat dalam Bhishma Parva dari bab 25 hingga 42. Mahabharata sendiri digolongkan sebagai Itihasa, yaitu kisah yang diingat dan diturunkan, disusun oleh Rsi Vyasa. Itulah sebabnya Bhagavad Gita secara luar atau bungkusnya termasuk ke dalam golongan Smrti — apa yang diingat manusia.
Namun jika dilihat dari isinya, Bhagavad Gita sesungguhnya adalah Sruti — apa yang didengar langsung dari Tuhan, bukan karangan manusia. Hal ini dapat dilihat dari dua hal utama. Pertama, Gita memuat Brahma Vidya, pengetahuan tentang Brahman yang tertinggi. Di setiap akhir bab terdapat kalimat penutup yang menyebutkan: "Om Tat Sat — Iti Srimad Bhagavad Gita Su Upanishadsu Brahma Vidyayam Yoga Shastre", yang berarti Bhagavad Gita ini adalah Upanishad, dan Upanishad adalah Sruti. Kedua, sabda-sabda di dalamnya diucapkan langsung oleh Narayana, Tuhan Yang Maha Esa sendiri, yang ditandai dengan ungkapan "Bhagavan Uvacha" — Tuhan bersabda, sama seperti sabda-sabda yang disabdakan dalam Weda.
Maka kesimpulannya sederhana: bungkusnya Smrti, tetapi isinya Sruti. Karena bungkusnya Smrti, Bhagavad Gita boleh dipelajari dan dibaca oleh siapa saja — wanita, pria, semua kalangan — tanpa pembatasan, berbeda dengan Weda murni yang dulunya memiliki aturan ketat siapa yang boleh mempelajarinya. Dan karena isinya Sruti, kebenaran yang terkandung di dalamnya setara dengan Weda, tidak dapat dibantah.
Inilah sebabnya di Bali, Bhagavad Gita ditempatkan pada kedudukan yang khas: dipakai sebagai Sruti dalam sembahyang sehari-hari, sekaligus dipelajari sebagai Smrti untuk memahami ajaran Dharma. Ia menjadi wahyu yang dapat dipeluk oleh semua orang — tidak jauh, tidak tertutup, tidak eksklusif. Itulah keunikan Bhagavad Gita: kebenaran tertinggi yang datang mendekat, agar setiap jiwa dapat mendengar dan memahaminya.
Apakah Sri Khrisna Awatara Wisnu Sama Dengan Sri Khrisna Dalam Bagawadgita?
Jika dicermati secara seksama, muncul pertanyaan: apakah Sri Krishna — Awatara Dewa Wisnu — dengan Sri Khrisna yang memberikan wejangan kepada Arjuna di tengah medan perang itu sama? Jawabannya: hakikatnya sama, namun peran yang diemban berbeda. Sebagai Awatara, Ia hadir mewujudkan kekuatan pemelihara semesta. Saat berbicara kepada Arjuna, Ia menampakkan diri sebagai guru dan penuntun, menyampaikan kebenaran yang abadi agar diterima dan dipahami sesuai kemampuan murid-Nya. Satu sumber, namun cara hadirnya menyesuaikan kebutuhan saat itu.
Demikian pula yang kita lihat dalam kehidupan sehari-hari. Ketika roh leluhur hadir melalui seseorang, ada perbedaan jelas antara keadaan sebelum, saat, dan sesudah kehadiran itu — peran berbeda, namun tidak berarti dua entitas yang saling bertentangan. Sama halnya dengan orang Kerauhan (Trance) di tempat suci dibandingkan dengan keadaan di luarnya: lingkungan, niat, dan jenis kekuatan yang hadir membedakan pengalaman itu, meski orang yang merasakannya tetap orang yang sama. Perbedaan itu bukan tanda kerancuan, melainkan tanda bahwa realitas rohani itu luas, beragam, dan tidak bisa disamaratakan.
Karena itulah agama tidak boleh dipahami hanya dari satu sudut pandang atau satu tradisi saja. Munculnya perdebatan — tentang apakah Bhagavad Gita bagian dari ajaran ini atau itu, apakah konsep Awatara benar atau tidak, hingga anggapan "menyembah manusia" — semua itu lahir ketika seseorang mengukur yang luas dengan ukuran yang sempit. Padahal dalam tradisi sendiri hal serupa sudah ada: Ngaben juga memuliakan manusia yang telah berpulang, menghormati yang telah menyatu dengan Yang Maha Esa. Bedanya hanya pada saat dan cara — ada yang dipulangkan setelah wafat, ada yang dihormati saat masih hidup, ada yang diakui sebagai perwujudan kekuatan Tuhan.
Semua itu bukan untuk diperdebatkan siapa yang benar dan siapa yang salah, melainkan dipahami sebagai berbagai jalan yang menuju ke arah yang sama. Yang satu tidak membatalkan yang lain, karena semuanya tumbuh dari akar penghormatan kepada Yang Maha Esa, yang menampakkan diri dalam begitu banyak wujud, sesuai dengan kemampuan dan kebiasaan anak-anak-Nya menerima-Nya.
Dalam buku pelajaran Agama Hindu untuk sekolah dasar kelas VI, kurikulum tahun 1994, ditegaskan bahwa Kresna Awatara adalah perwujudan langsung dari Hyang Widhi Wasa, Tuhan Yang Maha Esa. Hal ini menjadikan sabda-sabda yang diucapkan-Nya bukan sekadar ajaran manusia biasa, melainkan wahyu yang bersumber dari Yang Maha Sumber.
Bhagavad Gita adalah percakapan suci, sabda Sri Krishna kepada Arjuna di tengah medan perang Kurukshetra. Artinya, siapa pun yang memegang dan membaca Bhagavad Gita, sesungguhnya sedang memegang dan mendengarkan sabda langsung dari Hyang Widhi Wasa sendiri. Di dalamnya tercantum keterangan yang sangat mendalam, sebagaimana tertulis dalam Bhagavad Gita pasal 10 ayat 8: "Aku adalah sumber dunia rohani, dunia spiritual dan juga dunia material. Segala sesuatu berasal dari-Ku. Orang bijaksana yang mengetahui kenyataan ini secara sempurna, menekuni bhakti kepada-Ku dan menyembah-Ku dengan sepenuh hatinya."
Dari sabda ini kita memahami bahwa segala yang ada — baik yang tampak kasat mata maupun yang bersifat batiniah — bersumber dari satu asal yang sama. Menyadari hal ini bukan sekadar pengetahuan, melainkan jalan menuju pengabdian yang tulus; ketika hati menyadari bahwa semua berasal dari Tuhan, maka penghormatan dan kasih sayang kembali kepada-Nya dengan segenap jiwa.
Sebagaimana dikatakan, tidak ada kecerdasan, kelicikan, maupun kebijaksanaan manusia yang mampu melampaui kekuasaan Yang Maha Esa. Dalam ajaran Weda, Dewa Wisnu adalah Yang Maha Kuasa, pemelihara segala hukum alam dan penegak Dharma.
Dalam Wiracarita Mahabharata, Sri Krishna turun sebagai Awatara Wisnu, namun tidak memegang senjata maupun memimpin pasukan. Beliau mengatur jalannya perang sesuai hukum karma dan sumpah para pelakunya — bukan memaksakan kehendak, melainkan membiarkan setiap jiwa menuai apa yang telah ditanam. Yang bijak maupun yang cerdik, yang baik maupun yang tampak menipu, semuanya bergerak di bawah pengawasan-Nya. Bahkan dalam awatara lainnya — Wisnu sebagai Waraha, Narashima, maupun Rama — semuanya tetap berjalan sesuai aturan yang berlaku. Rama pun bukan menyelesaikan segala sesuatu dengan kekuatan sendiri, melainkan mendengarkan nasihat Wibisana, Jembawan, dan yang lain, menempuh jalan yang selaras dengan kewajiban dan kebenaran.
Itulah pelajaran bagi kita semua. Setiap orang wajib menjalankan kewajibannya masing-masing. Apa yang ditabur di ladang kehidupan, itulah yang akan dipanen. Tidak ada akal yang dapat mengelakkan hukum ini, tidak ada daya yang dapat mengubah ketentuan Yang Maha Kuasa. Bijaklah berbuat baik, karena dari kebaikan lah kebahagiaan yang sejati.
Komentar
Posting Komentar