Menghormati Catur Guru.
Menghormati Catur Guru.
Konsep Catur Guru lahir jauh sebelum kurikulum zaman sekarang disusun. Pertanyaannya: apakah makna aslinya sudah terjaga, atau hanya diikuti sebatas aturan yang menciptakan orang yang pandai bersujud namun lupa berpikir? Jika yang dihasilkan hanyalah orang yang pandai menyanjung dan menunduk tanpa berani bertanya, maka ajaran itu kehilangan rohnya.
Justru di sinilah pentingnya pandangan seperti Paulo Freire — pendidikan bukan untuk menciptakan murid yang patuh tanpa syarat, melainkan manusia yang kritis, yang mampu melihat ketidakadilan, yang berani membela kebenaran. Kesadaran kritis itulah yang seharusnya tumbuh dari penghormatan kepada guru: bukan meniru keburukan, melainkan memperbaiki apa yang keliru, menjunjung tinggi apa yang benar. Jika tidak, yang lahir bukan pelajar yang mulia, melainkan perampok yang sopan, yang menuntut dihormati tanpa memberi manfaat.
Inti ajaran sejati tetap sama: membebaskan diri dari belenggu nafsu — dalam Hindu disebut Sad Ripu atau enam musuh yang ada dalam diri manusia. Itulah tujuan sesungguhnya bimbingan guru: menuntun melepaskan diri dari keserakahan, kemarahan, kebencian, bukan justru memupuk kekuasaan yang menindas. Ketika kuasa dikuasai orang yang keliru, yang dipimpin memang menjadi tak berdaya. Namun janganlah satu pengalaman pahit dijadikan ukuran untuk semua. Tidak semua demikian. Ada guru yang menuntun ke arah terang, dan muridnya pun tumbuh menjadi orang yang baik. Apa yang ditabur, itulah yang dituai.
Maka pilihlah arah yang benar. Hormatlah tanpa kehilangan akal sehat. Belajarlah tanpa kehilangan keberanian membedakan baik dan buruk. Ikutilah petunjuk yang menuju kebebasan batin, bukan yang menuntut kepatuhan buta. Di situlah letak Catur Guru yang sesungguhnya.
Komentar
Posting Komentar