Di Antara Mitos dan Kebenaran Sejati.
Di Antara Mitos dan Kebenaran Sejati.
Menganggap kejujuran akan meruntuhkan agama adalah kekeliruan pandang yang mendalam. Seolah-olah realitas yang luas dan hidup dapat diukur dengan gambaran yang dibuat-buat sendiri. Hukum alam pun mengajarkan: tanpa kekuatan yang menata dari luar, kekacauan akan semakin menyebar. Jika dibiarkan hanya pada kehendak sendiri, bukan keadilan yang tumbuh, melainkan kekuatan yang menindas — siapa yang paling kuat, dialah yang berkuasa. Justru karena itu, pedoman yang datang dari Yang Maha Tahu diperlukan, agar yang lemah terlindungi dan yang kuat terjaga.
Ilmu pengetahuan modern pun menemukan bahwa manusia sejak lahir dibawa mencari makna yang melampaui diri sendiri — ada bagian di dalam diri yang selalu merindukan yang tak terhingga. Bukan berarti akal dilarang, justru sebaliknya: menyadari keterbatasan akal itulah permulaan kebijaksanaan, bukan menolak Pencipta karena belum mampu memahami-Nya sepenuhnya.
Kekecewaan pada manusia yang memanfaatkan agama memang wajar, namun menyamakan penjual dengan Yang Dijaga adalah kesalahan yang menyakitkan. Seperti tertipu membeli barang palsu, lalu menyimpulkan bahwa pabriknya tidak pernah ada. Oknum yang berbuat curang memang nyata, tetapi itu tidak mengubah kebenaran di atasnya. Jangan biarkan luka pada manusia menjauhkan diri dari Yang Maha Esa.
Namun ada kebenaran lain yang patut direnungkan: hampir semua yang kita ketahui diterima dari orang lain, dari lingkungan, dari apa yang dikatakan. Seringkali apa yang disebut "kebenaran" hanyalah mitos yang diwariskan, lalu dipertahankan dengan keras, padahal belum pernah dibuktikan atau dirasakan sendiri. Penyakit mitos inilah yang melahirkan perdebatan, permusuhan, dan perpecahan — bahkan di antara yang satu keyakinan pun bisa saling membenci. Jika terbiasa berselisih, hati menjadi keras dan akhirnya yang menderita adalah diri sendiri.
Ketidakmampuan membuktikan keberadaan-Nya bukan berarti Dia tidak ada, begitu pula sebaliknya — keduanya berada di luar jangkauan pembuktian yang terbatas. Percaya boleh tanpa alasan yang dapat diukur, tidak percaya pun boleh tanpa alasan yang dipaksakan. Namun yang terlihat nyata: banyak yang mengaku menjunjung kebenaran, tetapi saat kesempatan datang, memilih jalan yang tidak jujur.
Lihatlah alam — tumbuhan beraneka warna, tidak ada yang protes ingin berubah warna, semua tumbuh sesuai ketetapannya. Sungai mengalir jernih meski kotoran dibuang ke dalamnya, tidak membalas, tidak mengeluh. Alam patuh tanpa keraguan, karena tidak memiliki hawa nafsu yang mengganggu. Manusia berbeda — memiliki akal sekaligus keinginan yang bergejolak. Karena itu, mampu memilih kebaikan di tengah godaan, mampu ikhlas di saat sulit, itulah perjuangan yang paling luhur. Dan perjuangan itulah yang dinilai.
Komentar
Posting Komentar