Di Balik Segala Pertanyaan Tentang Tuhan.
Di Balik Segala Pertanyaan Tentang Tuhan.
Tuhan seperti matahari yang menyinari bumi, bagaikan air yang mengalir memberi kehidupan, dan segala yang memenuhi kebutuhan makhluk. Tuhan tidak menuntut disembah, itu benar, namun Tuhan juga tidak keberatan jika disembah. Siapa yang dapat menunjukkan Tuhan pernah murka karena dihormati? Memilih menyembah atau tidak adalah kebebasan yang diberikan kepada setiap manusia. Namun jika kita melihat kenyataan, segala yang ada — ikan di laut, nelayan yang mencari nafkah, benih yang tumbuh, makanan yang memberi kekuatan — semuanya tersedia tanpa diminta. Ikan memberi makan manusia, air menyejukkan, tanah memberi hasil. Jika kita menyadari semua itu, kita pasti akan memuji, bukan kepada ikan atau airnya, melainkan kepada Yang Mengatur semuanya itu.
Alam semesta memang menyediakan segala yang kita butuhkan, dan menjaganya adalah wujud syukur yang nyata. Namun berterima kasih kepada alam tidak sama dengan menempatkan alam sebagai yang disembah. Alam adalah pemberian, bukan Pemberi. Tempe yang lezat, hasil yang dipanen, kekuatan yang masuk ke tubuh — semua itu datang dari Tuhan yang Maha Nyata, melalui perantara alam dan usaha manusia. Segala sesuatu yang ingin kita peroleh memang harus diusahakan dengan cara yang benar, namun usaha itu sendiri tidak akan berbuah jika tidak ditopang oleh aturan-Nya yang sempurna.
Ada yang memandang sinar matahari, air, dan hasil bumi sebagai wajah Tuhan, lalu mengarahkan syukur langsung kepada hal-hal tersebut. Namun inilah yang perlu diluruskan: wajah yang terlihat itu bukan Diri-Nya, melainkan tanda kasih-Nya. Tuhanlah Pemilik seluruh alam, dan karenanyalah syukur seharusnya ditujukan. Tubuh, jiwa, dan roh kita adalah persembahan yang sejati — bukan dipersembahkan kepada tanah, laut, atau tanaman, melainkan kepada Yang menciptakan langit dan bumi beserta isinya. Semua yang tampak hanyalah bayangan dari Kebaikan yang tak terlihat, dan di sanalah hati seharusnya bersujud — kepada Sumber segala pemberian, bukan kepada pemberian-Nya.
Banyak orang bertanya tentang Tuhan dari berbagai sudut pandang yang berbeda — sehingga yang tampak bukan Tuhan, melainkan bayangan diri sendiri. Pemikiran filsafat pun kerap berputar di lingkaran yang sama, karena memakai ukuran yang terbatas untuk mengukur Yang Tak Terbatas.
Agama mengajarkan cara pandang yang berbeda. Beliau tidak terwadahi oleh ruang, waktu, materi, maupun pikiran — justru segala sesuatu itu berada di dalam-Nya. Jika Tuhan masih muat dalam pikiran kita, berarti yang dipikirkan itu lebih kecil dari pikiran itu sendiri.
Namun Beliau juga tidak jauh — lebih dekat daripada urat nadi di leher sendiri. Kehadiran-Nya meliputi segala yang tampak dan yang gaib, yang dulu dan yang akan datang, yang di sini dan di mana pun. Seperti "semesta pembicaraan" yang menampung semua hal tanpa menjadi bagian dari salah satunya: segala yang ada adalah tanda-Nya, namun tidak ada satu pun yang sama dengan-Nya. Kekosongan pun, ketidaktahuan pun, adalah bagian dari realitas yang bersumber dari-Nya. Manusia berproses dari tidak tahu menjadi tahu, lalu menemukan hal yang belum diketahui lagi — dan di sanalah kesadaran tumbuh: pengetahuan hanya membuka tirai, tanpa pernah sampai ke ujung. Pertanyaan "di mana", "kapan", atau "seperti apa" tidak berlaku bagi-Nya, karena pertanyaan itu milik yang terikat batas, sedangkan Dia meliputi segala batas.
Lain sisi, muncul pandangan yang menyatakan bahwa Tuhan hanyalah ciptaan pikiran manusia — dibentuk ulang dari zaman ke zaman, digambarkan dengan sifat-sifat manusiawi, bahkan saling bertentangan. Dari sanalah muncul pandangan bahwa agama hanyalah candu, dan seseorang bersyukur terlahir bebas dari ikatan tersebut.
Tetapi semua pandangan itu — baik yang memuji maupun yang menolak — tetaplah pandangan manusia. Apa pun yang dikatakan tentang Tuhan, baik sebagai zat, sifat, cahaya, waktu, perasaan, hidup, maupun mati — semuanya tetaplah kerangka makhluk yang dipakai untuk menyentuh Yang Melampaui. Prasangka, sehebat apa pun, tetaplah prasangka. Kita berada di dalam "gedung" itu, melihat dinding dan lantai, namun tidak mampu melangkah keluar untuk melihat bentuknya secara utuh.
Maka setiap orang melihat dengan kacamata yang berbeda. Ada yang merasa Beliau terlihat jelas, ada yang merasa tidak menemukan jejak sama sekali. Yang satu memuji, yang lain mempertanyakan — keduanya berbicara dari tempat yang sama: keterbatasan manusia mencari yang tak terbatas. Entah Beliau ada atau tidak, pencarian itu sendiri adalah cerminan bahwa di luar jangkauan kita, masih ada sesuatu yang lebih luas dari segala yang bisa dipikirkan.
Segala Sesuatu Adalah Tuhan
yang ini Tuhan, yang itu Tuhan. Jadi semuanya hanyalah Tuhan itu sendiri. Tidak ada sesuatupun selain Tuhan, sebab Tuhan adalah keberadaan itu sendiri. Tuhan tidak menciptakan sesuatu di luar diri-Nya, melainkan membentuk diri-Nya menjadi berbagai rupa sesuai kehendak-Nya sendiri. Maka segala keadaan adalah bagian-Nya — alam semesta beserta seluruh isinya, semuanya adalah wujud dari Tuhan itu sendiri.
Manusia memanggil-Nya saat gempa, tsunami, sakit parah, dan ketika segala keangkuhan runtuh, namun setelah keadaan tenang kembali dilupakan. Demikianlah berulang sepanjang masa. Semua makhluk dan alam semesta ini ada karena kehendak-Nya; Beliau Maha Segalanya, dan manusia hanyalah ibarat sebutir debu di hadapan-Nya. Segala pengetahuan yang kita miliki hanyalah tafsir dan rumus yang terbatas, bukan kebenaran mutlak, karena akal manusia tidak akan mampu memahami sepenuhnya. Ada yang berpendapat manusia bukanlah diciptakan, melainkan tercipta dengan sendirinya dari keberadaan yang Tunggal — pandangan ini boleh dianut, boleh juga berbeda. Mengapa ada gelap dan terang? Apakah keduanya sekadar simbol? Dan jika menyadari diri bukan ciptaan, apakah sudah mampu mencapai moksa, kembali ke asal mula segala yang ada? Ibarat rumah yang dibangun manusia, tubuh ini pun memiliki ruang-ruang: paru-paru bagaikan ruang tamu, jantung bagaikan kamar tidur, dan organ lainnya — lalu siapa yang menciptakan akal dan pikiran di dalamnya? Kuncinya sederhana: kenali diri, maka engkau akan mengenal Tuhan. Mengenal diri bukan berarti mengaku diri adalah Tuhan, sebagaimana dikatakan dogma yang keliru, melainkan tanpa mengenal hakikat diri sulit untuk mengenal Tuhan. Manusia diciptakan menurut gambar Tuhan, artinya keberadaan yang satu itu menampakkan diri dalam beraneka wujud — manusia, hewan, tumbuhan, hingga benda mati — semuanya adalah rupa dari Yang Satu.
Komentar
Posting Komentar