Hidup Berpasangan Dan Anugerah yang Tak Terduga

Hidup Berpasangan Dan Anugerah yang Tak Terduga.
 
Hidup ini mutlak milik Tuhan. Seperti alat yang dibuat tangan pemiliknya, kehidupan diatur sepenuhnya menurut kehendak-Nya. Kita boleh berharap, bercita-cita, merenung dan merencanakan, namun dari awal hingga akhir semuanya berjalan atas kebijaksanaan-Nya. Mengapa lahir di sini, bukan di tempat lain? Mengapa begini, bukan begitu? Itu bukan untuk dipersoalkan, melainkan untuk dijalani dengan hati yang pasrah. Waktu terus berjalan, duka pun perlahan memudar terbawa alirannya — karena Tuhan Maha Baik, dan Ia tidak menanggung beban di luar kekuatan hamba-Nya. Musibah yang datang pun atas izin-Nya, bukan berarti Ia lupa, melainkan bagian dari rencana yang belum kita pahami. Bersedihlah jika kehilangan orang terkasih, namun jangan berlebihan — karena yang menopang hidup, memberi rezeki, dan menghapus kesusahan selalu beliau, bukan mereka yang telah  pergi.
 
Tentu saja Tuhan mampu menciptakan dunia tanpa penderitaan, tanpa kesakitan, tanpa ketidaksempurnaan. Namun jika semuanya penuh kenikmatan tanpa celah, justru nikmat itu sendiri akan lenyap. Makan terasa hambar jika tidak pernah lapar; istirahat tidak nyaman jika tidak pernah lelah; kebahagiaan tidak terasa indah jika tidak pernah bersedih. Adanya pertentangan, kesulitan, dan ketidaksempurnaan adalah bagian dari rancangan yang bijaksana — agar kita mampu membedakan, menghargai, dan berusaha memperbaiki.
 
Jika semua orang kaya raya, maka tidak akan  ada orang yang mau bekerja. Jika semua menjadi pemimpin, maka tidak ada yang menjadi pelayan. Jika semua sehat selamanya, maka tidak akan ada dokter yang merawat. Adanya perbedaan, kekurangan, dan tantangan, justru membuka ruang bagi kebaikan untuk tumbuh — di mana ada kesusahan, di situ muncul pertolongan; di mana ada kejahatan, di situ kebaikan menyebar; di mana ada kegelapan, di situ cahaya menjadi terang. Semua diciptakan berpasang-pasangan. Permukaan bumi yang datar tidak akan mengalirkan air; suhu yang sama di mana-mana tidak akan menggerakkan angin. Keseimbangan inilah yang menopang kehidupan.
 
Kesimpulannya bukan Tuhan tidak ada, melainkan pemahaman kita yang belum sampai. Belum menemukan bukti bukan berarti terbukti tidak ada. Di antara keterbatasan akal manusia dan kebesaran Penciptanya, ada ruang yang tak terukur — ruang untuk percaya, untuk berserah, dan untuk bersyukur. Bahwa segala yang tampak kurang, tidak sempurna, atau menyakitkan, sedang diatur dengan cara yang jauh lebih indah daripada apa yang dapat kita bayangkan.
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sugesti Bali dan Pertemuan Dua Cara Memahami Dunia

Di Antara Buku Tulisan Asli Dengan Tulisan Hasil Ai.

Kisah Jayapangus dan Kang Cing Wie Antara Sejarah Dan Legenda.