Niat Tulus Lebih Dari Sekadar Hafal Mantra.

Niat Tulus Lebih Dari Sekadar Hafal Mantra. 
 
Menjadi seorang Pemangku itu adalah sebuah pilihan. Di jalan pengabdian ini, ada Mantra Siddhi, Mandhi Siddhi yang menjadi penuntun. Namun sejatinya, meskipun seorang Pemangku belum lancar melafalkan mantra atau belum sempurna menggunakan Sesonteng, Ida Sang Hyang Widhi Wasa sudah memahami hati dan niat kita. Mantra puja, Mekulit, maupun Sesonteng pada akhirnya tujuannya sama — yang terpenting bukan keindahan kata-katanya, melainkan ketulusan niat di dalam hati. Sungguh, lebih baik menggunakan cara yang sederhana namun dimengerti maknanya, daripada hafal panjang lebar namun tidak paham artinya sama sekali.
 
Perlu dipahami juga, ada perbedaan antara Pemangku yang belajar dari lembaga pendidikan, yang tentu mahir menghafal mantra, dengan Pemangku yang dipilih atau dijumput oleh kekuatan luhur — mungkin tidak hafal banyak mantra, namun hatinya terbuka untuk berkomunikasi dengan Bhatara, dan hidupnya tulus dalam Ngayah. Keduanya memiliki jalannya masing-masing, dan kita bebas menghormati keduanya sesuai keyakinan masing-masing.
 
Bagi saya pribadi, tidak masalah jika ada Pemangku yang belum mampu atau belum lancar melafalkan mantra. Biarlah begitu. Yang jelas, Ida Bhatara tidak pernah komplain. Ketika upacara berjalan sederhana, Beliau tetap hadir. Ketika upacara berjalan lebih lengkap dan indah, Beliau juga tetap tenang dan menerima. Yang terpenting adalah ketulusan dan keikhlasan hati kita. Di zaman sekarang ini, justru yang terlalu menonjolkan kepintaran dan kelebihannya, sepertinya lebih mempromosikan dirinya daripada mengabdi kepada Ida Sang Hyang Widhi.
 
Memang, menjadi Pemangku itu tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Awalnya terasa membingungkan, penuh keraguan, dan merasa belum layak. Namun ketika Tuhan dan Sesuhunan sudah membukakan jalan, semuanya menjadi terang dan lebih mudah. Itulah sebabnya pendidikan dan pembelajaran tetap penting, namun yang jauh lebih penting adalah kesucian niat dan kerendahan hati.
 
Janganlah kita berkecil hati karena perkataan orang. Perjalanan kepemangkuan bukanlah hal yang instan, tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ini bukan sekadar soal menghafal mantra atau menguasai tata cara upacara. Ada yang jauh lebih besar: mampu menjadi tempat memohonkan keselamatan bagi sesama, mampu menenangkan hati yang gelisah, dan menjaga rahasia suci yang diamanahkan kepada kita. Tetaplah semangat — meskipun hari ini belum mampu sepenuhnya, percayalah bahwa Ida Sang Hyang Widhi memahami bahasa hati kita lebih dari siapa pun. 
 
Siapa pun yang telah terpilih untuk jalan ini, lambat laun akan tumbuh dan berkembang seiring berjalannya waktu dan ketulusan hatinya. Prinsipnya sederhana saja: "Dadi Kelawan Bisa" — lakukanlah sebatas kemampuan yang kita miliki, jalankanlah sebatas pemahaman yang kita kuasai. Setiap manusia memiliki batas kemampuannya masing-masing, dan itu tidak apa-apa. Teruslah melangkah.
 
Tidak ada manusia yang sejak lahir langsung bisa berjalan. Orang yang kini pintar pun pernah mulai dari yang belum tahu. Kepintaran saja belum menjamin keberkahan. Ada juga Jro Mangku yang masih muda, sangat pintar melafalkan mantra, namun usianya singkat. Ada pula Pemangku yang lebih tua, tidak terlalu fasih dengan mantra, namun hidupnya panjang dan diberkati. Mana yang lebih baik? Mungkin pertanyaan itu tidak perlu dijawab — karena keberkahan hidup itu bukan milik siapa yang paling pintar, melainkan milik siapa yang hatinya tulus.

Satu Tuhan, Banyak Nama.
 
Umat Hindu di Bali menyebut Tuhannya dengan sebutan Sang Hyang Widhi Wasa. Bukan berarti hanya ada satu cara untuk menyebut Tuhan. Itu hanyalah cara orang  Bali memberi bahasa kepada pengalaman ketuhanan yang dirasakannya. Boleh saja ada yang memaknai atau memelesetkan sebutan itu menurut caranya sendiri, namun hakikatnya tetap satu: Sang Hyang Widhi Wasa adalah Tuhan yang disembah dan diakui oleh umat Hindu di Bali. Di bawah-Nya, para Dewa dapat dipahami seperti malaikat atau yang bertugas menjaga dan mengatur alam semesta — contohnya  Bhatara Indra sebagai penjaga langit, Bhatara Surya menjaga matahari, dan Bhatara Brahma menjaga api, masing-masing menjalankan tugasnya.
 
Canang sari pun bukan sekadar hiasan, melainkan tempat yang terbuat dari janur, di mana sari melambangkan rasa. Itulah persembahan yang mengolah dan menyampaikan rasa syukur dari hati kepada Yang Maha Agung.
 
Yang terpenting, biarlah kita berbeda menyebut Tuhan sesuai dengan keyakinan dan kebiasaan masing-masing, tetapi janganlah membedakan umat-Nya. Karena semua ciptaan berasal dari Sumber yang sama, dari Tuhan yang satu itu pula. Semoga damai senantiasa menyertai kita semua. 

Hindu Itu Satu Akar, Seribu Wajah.
 
Hindu pada hakikatnya bersifat universal. Bumi ini hanyalah seujung kuku dari ciptaan Sang Hyang Widhi Wasa, dan di luar sana masih ada berjuta-juta dunia lain. Dewa-dewa serta leluhur yang dipuja di pelinggih-pelinggih Bali adalah bagian dari puluhan miliar wujud kekuatan Yang Esa, sebagaimana tertulis dalam Bhagavad Gita dan Srimad Bhagavatam Purana. Di Bali, nama-nama kekuatan itu sering diambil dari bahasa dan budaya setempat, namun hakikatnya sama dengan nama-nama yang tercantum dalam Weda.
 
Mengapa nama-nama dewa lebih dikenal seolah-olah berasal dari India? Bukan karena kebenaran hanya ada di sana, melainkan karena kitab Weda diturunkan di wilayah itu oleh Resi Narada kepada Bhagawad Vyasa. Bahasa Sanskerta yang digunakan dalam mantra pun bukan bahasa India semata, melainkan bahasa yang mengandung makna mendalam, sebagaimana bahasa Indonesia juga menyerap banyak kata darinya. Demi pengakuan secara negara, maka pada tahun 1968 atas upaya Ida Bagus Sugriwa, tradisi yang dahulu dikenal sebagai Agama Tirta disesuaikan bentuknya agar diakui sebagai agama, sehingga kiblat rujukannya pun mengikuti tradisi yang telah diakui dunia.
 
Dalam kitab suci disebutkan Dewa Tri Purusa — Siwa, Sada Siwa, Parama Siwa — serta Sri Krishna sebagai wujud tertinggi, dan itulah rujukan yang berlaku secara umum. Namun kekayaan lokal Bali juga harus dibanggakan dan dilestarikan, karena di sini ajaran Weda telah tumbuh dan bercampur dengan kearifan Nusantara menjadi sesuatu yang khas dan indah.
 
Namun kini muncul keprihatinan: banyak yang tidak mengenal siapa sesungguhnya yang berstana di pelinggih-pelinggih di sekitarnya, melainkan lebih mengenal tokoh-tokoh dari film atau cerita luar. Di tempat sembahyang  pun, setelah sembahyang, waktu luang kerap dihabiskan untuk hal yang tidak mendukung pertumbuhan batin. Ada yang menganggap sosok-sosok yang dipuja hanyalah tokoh masa lalu yang tidak nyata, bahkan disamakan dengan tokoh fiksi. Padahal yang terpenting bukan sekadar mengenal nama, melainkan menyadari hakikat diri — menyadari dari mana kita berasal dan ke mana kita kembali.
 
Perpecahan dan perdebatan atas nama agama justru mematikan nalar generasi. Jika sibuk bertengkar tentang siapa yang benar dan siapa yang salah, kita lupa mempelajari hal yang paling mendasar: mengenal diri sendiri. Sangkan Paraning Dumadi — asal dan tujuan hidup — itulah yang seharusnya menjadi fokus. Para tetua dan penerus seharusnya berjalan beriringan, bukan saling membiarkan. Kini sarana informasi semakin maju, semoga hal itu membangkitkan keingintahuan kita, bukan sekadar menghafal nama, melainkan memahami makna di balik segala pemujaan itu. Berhentilah terjebak pada bentuk semata, dan kembalilah kepada kesadaran yang sejati.

Satu Akar, Berbagai Dahan
 
Belajarlah dari pohon singkong. Batangnya menjulang lurus ke langit, lalu tumbuh dahan ke berbagai arah — semuanya berbeda arah, namun bersumber dari akar yang sama. Begitulah manusia mencari Tuhan: berbeda jalan, berbeda paham, berbeda cara menyembah, tetapi Yang Dituju tetap Satu.
 
Dunia ini memang tak pernah lurus, selalu miring. Yang membuatnya semakin miring adalah mereka yang merasa dirinya satu-satunya yang berdiri tegak, lalu menuding semua orang lain bengkok. Berhentilah sibuk menentukan siapa yang paling benar dan siapa yang sesat. Kebenaran itu sederhana, tak perlu dipersulit:
 
Ada hukum — jika hendak bersembahyang, uruslah dengan tertib. Jika ada keberatan, selesaikan di jalan yang sah, bukan dengan kekerasan. Ada batas — kebebasanmu berhenti di saat kebebasan orang lain terganggu. Tak ada kebebasan yang melukai. Ada nalar — boleh berbeda tafsir, boleh berbeda upacara, tetapi jangan menyembunyikan hawa nafsu di balik nama Tuhan.
 
Sederhana saja: jujur, bertanggung jawab, saling menghormati. Orang beragama sejati bukan yang paling lantang berseru, melainkan yang mampu merawat dan menjaga kehidupan bersama — lahir maupun batin — meskipun keyakinannya tak sama dengan orang di sebelahnya.

Satu Realitas, Banyak Nama
 
Segala yang ada di alam semesta ini — nama, tingkah, ucapan, yang benar maupun yang salah, yang baik maupun yang buruk — semuanya adalah perwujudan dari Yang Satu. Kita menyebutnya dengan beragam nama: Sang Penguasa Alam Semesta, Sang Pencipta, dan sebutan lainnya. Bukan karena Beliau berbeda-beda, melainkan karena kita membutuhkan bahasa yang mudah dipahami untuk menyampaikan apa yang ada di hati. Itulah sudut pandangku, dan setiap orang berhak memiliki sudut pandangnya masing-masing.
 
Ilmu yang dimiliki manusia sungguh terbatas, laksana air yang menempel di sela-sela jari setelah dicelupkan ke lautan luas. Itulah sebabnya dalam kitab dijelaskan bahwa segala sesuatu di dunia ini tidak diciptakan untuk dimiliki atau dikuasai secara semena-mena. Kita hanyalah penumpang sementara; jangka waktu keberadaan kita telah diatur, bukan untuk mewarisi dunia ini selamanya. Maka satu-satunya hal yang paling bijak dilakukan di dunia ini adalah berbuat kebaikan dan menjauhi segala kerusakan.
 
Namun tantangannya besar, karena kita tidak hidup sendirian. Kita hidup berdampingan dengan manusia dan makhluk lain. Sebaik-baiknya makhluk yang tak tampak pun ada, dan sejahat-jahatnya manusia pun ada di tengah kita. Di sinilah ujian kesabaran dan kebijaksanaan kita diuji.
 
Tuhan bukan sekadar konsep yang bisa dijelaskan dengan kata-kata. Beliau adalah realitas yang nyata, fakta yang pasti, keberadaan yang kongkrit — sebagaimana ungkapan orang Jawa: "Nyoto, cetho welo-welo" — nyata dan terang adanya. Ada yang memandang dunia ini seperti ungkapan Jawa: "Arco podho" — dunia ini tempat patung-patung yang diberi napas dan bisa bercerita. Dari cerita-cerita itulah lahir pemahaman tentang sesuatu yang lebih besar dari diri manusia, dan lahirlah sebutan-sebutan untuk-Nya. Bagi yang lain, nama Tuhan adalah ungkapan rasa syukur dan kekaguman terhadap kebesaran alam semesta yang menyatu secara utuh.
 
Yang terpenting dari semua perbedaan ini adalah: jangan saling menghakimi, jangan merasa paling benar, dan jangan merasa paling mulia. Perbedaan pandangan justru menjadi kekayaan, bukan alasan perpecahan. Sebelum manusia menciptakan nama-nama itu, Yang Satu sudah ada sejak awal. Lucu sekaligus menyedihkan melihat manusia berkelahi bahkan saling menyakiti hanya untuk membela pemahamannya sendiri tentang Realitas yang sama-sama belum sepenuhnya dipahami. Padahal yang dimaksud itu Satu, hanya jalan menyebutnya yang berbeda-beda.
 
Di Atas Segala Label, Hanya Dia yang Nyata
 
Segala sesuatu di alam semesta ini terlahir tanpa nama, tanpa tanda, tanpa batas yang menempel sejak awal. Kemudian manusia menciptakan pengelompokan, pelabelan, pemberian identitas, pengklasifikasian, perjanjian, dan kesepakatan — membagi berdasarkan keyakinan, ras, warna kulit, kedudukan, kekayaan, dan ketokohan. Ketika pembagian itu berdiri tanpa fondasi hakikat kehidupan, lahirlah gesekan antar kelompok, masing-masing mengatasnamakan kehormatan, padahal benang merah kebenaran justru makin kusut dan terputus.
 
Di tengah segala perdebatan yang panjang, Tuhan tetap nyata — saat ini, kini, dan selamanya. Tak perlu ditulis berlembar-lembar untuk membuktikan-Nya; Dia ada dan betul betul ada. Yang memperdebatkan, yang mempertentangkan, yang sibuk menulis panjang lebar untuk menunjukkan diri paling benar, justru belum berdamai dengan diri sendiri. Kita semua hanyalah alat di tangan-Nya. Yang menyadari ini menjadi tenang; yang lupa terus berkeluh kesah dan berselisih.
 
Sederhana saja: sebelum berdebat tentang jalan ke sana, pastikan dulu hati sendiri sudah sampai. Yang telah menemukan-Nya tak perlu bersusah payah meyakinkan siapa pun. Ia cukup diam, dan kedamaiannya yang berbicara.

Garis Perguruan dan Hakikat Pembagian.
 
Jika bicara Parampara, maka merujuk pada Bhagawad Gita, Sri Krishna mengajarkan yoga abadi ini kepada Dewa Mahatari Vivasvan, yang kemudian mewariskannya kepada Manu, lalu diteruskan kepada Ikshvaku, dan selanjutnya diturunkan kepada raja-raja bijak. Maka garis perguruannya jelas berjalan dari raja-raja Suryawangsa, dan yang terakhir menyampaikannya kembali adalah Sri Krishna kepada Arjuna. 

Sekadar berbagi, bagi mereka yang telah mendalami pengetahuan ini, keterikatan sudah tidak lagi berbentuk semata; apa yang tampak bukanlah sekadar tafsir yang meraba-raba. Empat golongan yang disebutkan sesungguhnya tidak lain adalah metode atau cara pembelajaran, dibagi demikian semata sebagai pengingat agar mudah dipahami dan dihayati. 

Namun karena terjadi kemerosotan kecerdasan serta kegagalan memahami petunjuk dan wujud sebenarnya, muncullah berbagai tafsir yang keliru. Klaim-klaim bermunculan, keterikatan semakin mengkristal, dan dari benih inilah lahir sekte-sekte yang saling memisahkan diri. Cerita mukjizat lalu dijadikan modal dan penghasilan, saling berebut pengikut dengan janji-janji manis di masa depan — demikianlah yang terjadi di zaman Kaliyuga, di mana segala sesuatu diubah menjadi lahan keuntungan. 

Pada akhirnya, empat golongan sosial itu pun berakar dari metode pembelajaran yang sama, namun disalahpahami: yang semestinya didasarkan atas sifat dan perbuatan, justru diwariskan semata-mata atas dasar keturunan badan, bukan lagi atas kualitas diri.
 

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sugesti Bali dan Pertemuan Dua Cara Memahami Dunia

Di Antara Buku Tulisan Asli Dengan Tulisan Hasil Ai.

Kisah Jayapangus dan Kang Cing Wie Antara Sejarah Dan Legenda.