Kebimbangan Arjuna Di Medan Perang.

Kebimbangan Arjuna Di Medan Perang. 
 
Di tengah Kurukshetra, berdiri seorang ksatria perkasa, Arjuna. Namun tangannya gemetar hingga Gandiva yang dipegangnya terlepas jatuh ke tanah. Karena lawan yang akan diajaknya berperang tidak lain adalah guru dan kakeknya sendiri serta saudara sepupunya. Seketika itu hatinya terguncang: untuk apa aku berperang jika harus menyakiti mereka dan orang orang yang sangat  aku cintai? 
"Khrisna... bagaimana aku bisa mengangkat senjata untuk berperang dengan  mereka? Bagaimana aku bisa mengarahkan panah ke dada guru, kakek, dan saudaraku? Apakah Kemenangan yang aku raih harus dibayar dengan darah saudara sendiri? Lebih baik aku mati tanpa menyakiti siapa pun daripada hidup membawa dosa membunuh orang-orang yang kucintai."
 
Khrisna diam sejenak, menatap keraguan di mata sahabatnya itu. Lalu Ia berbicara, tenang namun tegas, seperti sungai yang mengalir tak terhalang batu.
 
"Arjuna, engkau bersedih atas hal yang tak patut disedihkan. Bukan untuk tubuhlah air mata ini ditumpahkan. Ketahuilah: yang berdiam di dalam tubuhmu tidak pernah lahir, tidak pernah mati. Pedang tak dapat menebasnya, api tak dapat membakarnya, air tak dapat membasahinya. Ia kekal, abadi, tak berubah. Seperti seseorang menanggalkan pakaian lalu mengenakan pakaian yang baru. Demikian pula jiwa meninggalkan tubuh lama untuk menerima yang baru. Mengapa meratapi yang hakikatnya tak dapat binasa?"
 
Arjuna mengangkat wajahnya, matanya masih berkabut bimbang.
 
"Tetapi Khrisna... jika aku berperang, aku yang bersalah. Aku yang menaburkan kebinasaan keluarga. Ketika ikatan keluarga putus, hilanglah kesusilaan. Ketika kesusilaan hilang, dunia tergelincir ke dalam kekacauan. Akulah penyebabnya."
 
Khrisna tersenyum tipis.
 
"Engkau bicara seakan engkau penguasa hidup dan mati. Padahal tak seorang pun benar-benar membunuh, dan tak seorang pun benar-benar dibunuh. Dharma-mu sebagai ksatria adalah berdiri membela kebenaran. Bukan untuk menguasai, bukan untuk menang, bukan untuk menuntut balas — melainkan menjalankan kewajiban dengan tangan yang kokoh dan hati yang bersih. Bekerjalah, tetapi jangan menagih hasil. Biarkan buah perbuatan menyerahkan diri kepada Yang Mengatur segala sesuatu."
 
Lalu, di hadapan Arjuna, Khrisna menampakkan  wujud sejati-Nya. Langit seakan terbelah. Khrisna menampakkan dirinya menjadi seribu wajah dan seribu tangan, segala yang ada di semesta tampak menyatu dalam diri-Nya — lahir dan mati, tangis dan tawa, permulaan dan akhir yang tak bertepi. Arjuna menahan napas, gemetar bukan karena takut, melainkan karena kagum dan sadar betapa kecilnya dirinya di hadapan Yang Tak Terbatas.
 
Kembali wujud Khrisna seperti semula, lembut dan sederhana di atas kereta perang.
 
"Bangkitlah, Arjuna. Bukan karena kemenangan menantimu, melainkan karena kewajiban menunggumu. Jalani jalanmu, dan biarkan yang di atas mengurus selebihnya."
 
Arjuna menunduk dalam. Keraguannya luruh seperti kabut pagi yang disapa mentari. Ia meraih kembali Gandiva, genggamannya kokoh, tatapannya tenang.
 
"Aku mengerti, Khrisna. Bukan aku yang menentukan. Aku hanya alat di tangan-Mu. Aku akan berjuang — bukan karena ingin menang, tetapi karena itu jalanku."
 
Kereta perang berderak maju. Di belakangnya pasukan bersiap. Arjuna mengangkat busurnya, bukan lagi dengan gemetar, melainkan dengan ketenangan yang tak tergoyahkan. Ia tidak lagi berjuang untuk keinginannya sendiri. Ia berjuang untuk dharma.
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sugesti Bali dan Pertemuan Dua Cara Memahami Dunia

Di Antara Buku Tulisan Asli Dengan Tulisan Hasil Ai.

Kisah Jayapangus dan Kang Cing Wie Antara Sejarah Dan Legenda.