Makna Hari Suci Siwaratri.
Makna Hari Suci Siwaratri.
Siwaratri berarti Malam Siwa. Kata Siwa bermakna Yang Baik Hati, Yang Suka Mengampuni, Yang Memberi Harapan dan Kebahagiaan — gelar kehormatan bagi salah satu wujud Tuhan, yang berfungsi melebur segala yang tidak murni agar kesadaran diri dapat bersinar kembali. Kata Ratri berarti malam, yang melambangkan kegelapan batin. Maka Siwaratri adalah malam untuk melebur kegelapan hati, menuju jalan yang terang.
Di Bali, ajaran Siwaratri dikenal melalui karya agung Kekawin Lubdaka atau Kekawin Siwaratri Kalpa, digubah oleh Mpu Tanakung pada masa Majapahit, abad ke-15. Karya ini bersumber dari Padma Purana, khususnya bagian Uttara Kanda, yang memuat percakapan antara Raja Dilipa dan Resi Wasistha. Mpu Tanakung menyusunnya kembali dalam bentuk kakawin agar pesan suci ini dapat menyebar luas dan dipahami oleh masyarakat. Selain Padma Purana, ajaran Siwaratri juga bersumber dari Siwa Purana, Garuda Purana, dan naskah Siwaratri Kalpa lainnya.
Siwaratri jatuh pada Caturdasi Kresnapaksa Sasih Kepitu, malam ke-14 bulan gelap, sehari sebelum bulan mati — malam yang paling gelap dalam setahun. Di sinilah maknanya terletak: ketika kegelapan mencapai puncaknya, hati yang bertekad suci justru menyala paling terang. Ciri utama perayaan Siwaratri di Bali adalah Mona Brata — Upawasa, Jagra, perenungan diri, menahan indria, membersihkan pikiran, serta memohon ampunan dan cahaya dari Dewa Siwa. Bukan sekadar perayaan lahiriah, melainkan perjalanan batin: melebur yang gelap, menyambut yang terang, dan kembali kepada kebaikan sejati.
Komentar
Posting Komentar