Mengapa Durga Berstana di Pura Dalem?
Mengapa Durga Berstana di Pura Dalem?
Sering muncul pertanyaan, mengapa Dewi Durgā dikaitkan dengan tempat pembakaran jenazah, kuburan atau Pura Dalem? Kata dalam bahasa Sanskerta untuk tempat pembakaran jenazah adalah Śamśthāna, yang tersusun dari dua akar: Sam yang berarti ketenangan, kedamaian, atau istirahat, dan sthāna yang berarti tempat. Jadi secara hakikat, tempat pembakaran jenazah bukan sekadar tempat pemusnahan, melainkan tempat istirahat dan kembalinya segala sesuatu kepada ketenangan yang terdalam.
Kālī Durgā adalah wujud feminin dari Mahākāla Bhairava — sang Waktu itu sendiri. Segala yang lahir pasti akan dipanen oleh waktu, dan pada akhirnya semua akan bersatu kembali ke dalam diri Nirguṇa Dakṣiṇa Kālī. Durgā adalah Mūlaprakṛti, sumber asal mula segala unsur pembentuk alam semesta. Kuburan menjadi tempat di mana jiwa-jiwa beristirahat, melepaskan ikatan tubuh, dan mencapai kedamaian. Sering disebut sebagai Dewi kehancuran, namun kehancuran di sini bukan berarti bencana, melainkan pembubaran kembali ke asal — apa yang dijadikan, dikembalikan.
Ādi Parāśakti-lah yang menciptakan kosmos ini, dan pada akhirnya segala yang ada akan larut kembali ke dalam-Nya. Jiwa setelah menyelesaikan perjalanan dan memetik buah karmanya, akan menemukan ketenangan di bawah telapak kaki-Nya. Itulah sebabnya Śamsthana menjadi tempat kediaman-Nya — bukan karena kegelapan, melainkan karena di sanalah segala perjalanan sementara berakhir dan pulang ke sumber yang sejati.
Tempat pembakaran jenazah juga menjadi cermin bagi kita semua. Di sana terlihat jelas betapa rapuhnya tubuh yang dulu dibanggakan. Yang dianggap penting, yang dipuja, yang dipertahankan — akhirnya menjadi tumpukan abu. Inilah yang menyadarkan orang-orang yang mencari kebenaran: kesenangan duniawi bersifat sementara. Maka sejak zaman dahulu, para pencari kebenaran di Bali maupun di India memilih tempat ini sebagai tempat bermeditasi, menyadarkan diri untuk meninggalkan kesombongan materi, dan memfokuskan diri pada jalan spiritual.
Kematian tidak membeda-bedakan siapa pun. Baik raja maupun orang miskin, pada akhirnya tubuh ini akan kembali menjadi debu. Hanya jiwa yang kekal. Orang yang memahami kebenaran ini tidak membuang waktu untuk hal-hal yang berlalu, melainkan mendedikasikan hidupnya untuk melayani Yang Maha Esa, karena itulah satu-satunya bekal yang tidak akan tertinggal.
Komentar
Posting Komentar