Orang Suci Jarang Mengedukasi Umat.

Orang Suci Jarang Mengedukasi Umat. 
 
Di tengah kemegahan adat dan kesakralan tradisi di Bali, muncul pertanyaan yang sungguh patut direnungkan yaitu mengapa mereka yang memiliki nama, kedudukan, maupun pengetahuan, jarang mau turun untuk  mengedukasi masyarakat tentang makna adat, budaya, dan tradisi? Banyak yang dipanggil Jero, banyak yang disapa Sulinggih, namun pencerahan yang diberikan bukanlah penjelasan tentang Dharma, melainkan penawaran barang seperti minyak berkasiat, kelapa bertuah, dupa pembawa rezeki, dan segala benda yang dijual atas nama keyakinan. Coba kita pikirkan secara nalar. Apakah ini memang tugas yang diamanatkan, atau justru memanfaatkan kepercayaan orang lain demi keuntungan pribadi?
 
Kitab suci telah memberikan pedoman yang sangat jelas. Dalam Bhagavad Gita pasal 4 ayat 34, ditegaskan: "Ketahuilah hal itu dengan menyerahkan diri, bertanya, dan melayani. Mereka yang telah melihat kebenaran akan mengajarkan kepadamu." Tugas mereka yang memegang amanah adalah mengajarkan, bukan menjual. Dalam Bhagavad Gita pasal 3 ayat 13, dikatakan bahwa orang yang mengabdi dengan tulus terbebas dari segala dosa, sedangkan yang berbuat demi keuntungan pribadi justru menikmati kejahatan. Manawa Dharma Sastra mengingatkan bahwa pemimpin agama dan leluhur diangkat untuk melindungi rakyat dan menyebarkan pengetahuan, bukan menjadikan kepercayaan sebagai lapak dagangan.
 
Bukan berarti segala persembahan itu salah. Namun jika niat utamanya adalah menerima uang dengan menjanjikan berkah, itu bukan lagi pengabdian, melainkan perdagangan. Sesungguhnya, orang yang benar-benar diberkati justru lebih banyak memberi daripada menerima. Yang terpenting bukan benda yang dibeli, melainkan hati yang tulus, pikiran yang lurus, dan perbuatan yang baik. Itulah kekayaan yang tidak bisa dijual dan tidak bisa dibeli oleh siapa pun.
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sugesti Bali dan Pertemuan Dua Cara Memahami Dunia

Di Antara Buku Tulisan Asli Dengan Tulisan Hasil Ai.

Kisah Jayapangus dan Kang Cing Wie Antara Sejarah Dan Legenda.