Saling Menghormati Antar Agama.

Saling Menghormati Antar Agama. 
 
Agama dan aturan ibarat seseorang mau mencari pendamping hidup.  Bagaimana caranya agar mendapatkan pendamping hidup yang mau  hidup bersama selamanya, hubungan damai, dan harmonis. Manusia diajak berlomba dalam kebaikan, saling menguatkan, bukan saling menjauh. Jika manusia sering berpolemik antar agama, sering debat kusir, lalu mendirikan kelompok masing-masing, seolah-olah ada banyak bumi padahal bumi hanya satu. Jangan menilai kelompok lain semata-mata berbeda, justru sikap memandang diri paling benar itulah yang melahirkan pemisahan dan rasisme.
 
Dari mana sebenarnya lahir kasih sayang? Bukan dari darah, bukan dari daging, tak bisa dilihat bentuk maupun warnanya. Namun karenanya keberadaan perasaan itu tak menjadi kurang nyata. Aliran kehidupan mengizinkan semua itu tumbuh, beragam, dan berjalan. Namun ada doktrin yang mendarah daging: bahwa di luar satu jalan pasti dihukum. Banyak yang hidup dalam ketakutan, seolah Tuhan menciptakan makhluk hanya untuk membakarnya. Padahal jika ditanya sebelum lahir: "maukah engkau hidup lalu dibakar setelahnya?" — jawabannya mana yang akan diterima?
 
Di sini perlu membedakan dengan jernih: budaya asing, dan kearifan lokal adalah dua hal yang berbeda, kerap dicampuradukkan hingga menimbulkan kesalahpahaman. Tuhan ada di mana-mana, namun kesatuan ibadah memerlukan satu bahasa dan satu arah agar tidak berantakan. Bukan karena bahasa asing lebih suci, melainkan agar Sabda-Nya terjaga utuh dari perubahan makna sepanjang masa. 
 
Spiritual justru datang membersihkan kebiasaan negatif. Yang diambil hanyalah apa yang memang diperlukan, dan itu pun tidak diwajibkan bagi semua. Sementara kearifan lokal yang baik — gotong royong, menjaga alam, menghormati sesama — justru sejalan dengan ajaran dan dipertahankan. Leluhur yang bijak sejatinya akan setuju: jangan serakah terhadap alam, itulah inti yang sama di semua jalan.
 
Membagi-bagi umat agar terpisah-pisah bukan hal baru. Dulu penjajah memisahkan agama dan adat agar kekuatan bersama melemah. Sekarang pun nada serupa terdengar: banggalah menjadi diri sendiri, terpisah dari yang lain. Padahal mencintai tanah kelahiran tidak harus menolak langit. Bisa sepenuhnya anak bangsa, sepenuhnya hamba Tuhan. Pakai bahasa sendiri dalam kehidupan sehari-hari, pakai pakaian sendiri di acara sendiri — semuanya sah dan dihormati. Ketika menghadap Tuhan, satu bahasa dan satu arah itu bukan penjajahan, melainkan persatuan.
 
Setiap orang berhak berpikir dan menyampaikan pandangannya, namun biarkan perdebatan berjalan dengan jujur dan saling menghormati. Menyerang keyakinan atau mencurigai niat orang lain tidak mendekatkan pada kebenaran. Pada akhirnya, yang terpenting adalah berbuat baik, menjaga persatuan, dan mencari jalan yang membawa kedamaian bagi semua.
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sugesti Bali dan Pertemuan Dua Cara Memahami Dunia

Di Antara Buku Tulisan Asli Dengan Tulisan Hasil Ai.

Kisah Jayapangus dan Kang Cing Wie Antara Sejarah Dan Legenda.