Sekolah Berbasis Agama Adalah Pilihan yang Tak Harus Sama.
Sekolah Berbasis Agama Adalah Pilihan yang Tak Harus Sama.
Dunia ini memang bermuka dua — ada yang baik dan ada buruk. Di mana pun tempatnya, entah di sekolah berbasis agama maupun di sekolah umum, sama saja. Melakukan baik atau buruk bukan tergantung pada tempat di mana menuntut ilmu, melainkan pada diri masing-masing. Sekolah berbasis agama dengan sekolah umum lainnya; lulusannya bisa melanjutkan ke perguruan tinggi mana saja. Tujuannya sederhana: akidah ditanamkan sejak dini, bekal hidup dibentuk, lalu ketika dewasa setiap orang berhak menentukan arah langkahnya sendiri.
Di rumah pun ada aturan, di negara pun ada hukum — tanpa batasan, ketertiban tak akan tegak. Semakin luas pandangan, semakin banyak yang diketahui, dan semakin banyak pula yang tak sejalan dengan kita.
Namun muncul pandangan yang mempertentangkan jalur pendidikan, seakan-akan sekolah berbasis agama diperuntukkan bagi rakyat biasa dan sekolah pilihan lain hanya bagi yang mampu. Ada orang tua yang menitipkan anak ke Asrama bukan karena panggilan jiwa, melainkan merasa tak sanggup membimbing sendiri — ini memang patut direnungkan. Tetapi menggeneralisasi bahwa seluruh sistem pendidikan agama sengaja dibuat untuk menindas adalah keliru. Ini pola pikir yang terjebak kecurigaan, melihat satu hal lalu menyimpulkan semuanya sebagai konspirasi.
Asrama bukan penjara, bukan pula tempat menanam kepatuhan buta. Justru di sanalah tradisi diskusi, tanya-jawab, dan penelusuran kebenaran hidup sejak lama. Asrama tidak memisahkan ilmu agama dan ilmu dunia — keduanya saling melengkapi. Perguruan tinggi kedokteran, teknik, hingga sekolah di mana pun, selama ditujukan untuk kebaikan bersama, semuanya adalah bagian dari ibadah menuntut ilmu.
Tidak semua orang harus menjadi dokter, tidak semua harus menjadi pendeta. Setiap anak membawa bakat dan panggilan yang berbeda. Jika anak seorang pejabat memilih menjadi dokter, bukan berarti jalur lain tidak baik; jika seseorang memilih Asrama, bukan berarti tempat lain terlarang. Dunia membutuhkan segala peran — ada yang menjaga akhlak, ada yang mengelola pembangunan, ada yang mengurus kesehatan. Mencurigakan setiap pilihan yang berbeda sebagai ketidakjujuran justru mematikan keragaman yang dianugerahkan Tuhan.
Ada yang berkata: jika semua lembaga bernuansa agama dibubarkan, anak orang kaya tetap akan bersekolah di tempat terbaik, sementara yang miskin tak mendapat tempat yang sama. Kekhawatiran ini wajar, namun bukan berarti salah jalur pendidikan yang baik. Yang perlu diperbaiki adalah kesempatan yang adil bagi semua, bukan memusnahkan tempat yang membentuk akhlak bangsa. Sekolah berbasis agama dan sekolah umum ibarat dua sayap — sama-sama mulia, sama-sama dibutuhkan, untuk membawa peradaban melangkah maju.
Komentar
Posting Komentar