Puja Tri Sandya Gabungan Mantra dan Stawa.

Puja Tri Sandya Gabungan Mantra dan Stawa.
 
Perlu dipahami dengan jernih bahwa dalam Puja Tri Sandya, bait pertama itu sesungguhnya merupakan Mantra yaitu Sawitri Mantram, yang bersumber langsung dari Weda Sruti. Sementara bait ketiga, keempat, dan kelima bukanlah Mantra dalam arti Weda, melainkan Siwa Stawa — pujian dan penghormatan yang disusun sebagai ungkapan bakti. Teks-teks ini diambil dari Siwa Mahadewa Stuti dan Stawa, yang disusun oleh para tokoh intelektual Hindu di Bali, bukan langsung dari wahyu Weda.
 
Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Hooykaas, ilmuwan Belanda yang mendalami naskah-naskah keagamaan di Bali. Dalam penelitiannya, memang ditemukan bahwa di Bali yang berkembang luas bukanlah Mantra Weda murni, melainkan Puja, Stuti, dan Stawa — bentuk pujian yang disusun secara lokal, menyesuaikan dengan kebutuhan Shadana masyarakat. Bukan berarti Stawa itu kurang suci, melainkan berbeda sifatnya: Mantra adalah wahyu yang didengar, sedangkan Stawa adalah ungkapan pujian yang lahir dari penghayatan dan kasih sayang.
 
Perbedaan ini penting diketahui agar kita tidak salah memahami makna yang diucapkan. Semua itu tetap suci dan berharga, karena semuanya diarahkan kepada Yang Maha Esa. Hanya saja, mengenali asal-usulnya membuat kita semakin menghormati warisan yang diterima — membedakan mana yang turun dari zaman ke zaman sebagai wahyu, dan mana yang lahir dari ketulusan hati para leluhur kita di Bali.

Puja Tri Sandya Adalah Gabungan  Inti Weda dan Karya Lokal.
 
Di dalam Puja Tri Sandya, terdapat perbedaan asal-usul di antara bait-bait yang dilantunkan. Bait keempat, kelima, dan keenam — termasuk Siwa Stawa yang biasa dibacakan saat Surya-sewana — bukanlah bagian dari Weda Sruti, melainkan kearifan lokal, buah pikiran dan bakti para tokoh agama di Bali. Sumber aslinya dapat ditemukan dalam buku Stawa-Mantra Para Pandita. Jika merujuk pada kerangka Weda, yang menjadi inti dan pokok substansi hanyalah bait pertama, kedua, dan ketiga.
 
Bait pertama bersumber dari Gayatri Mantram yang ada di Rg, Yajur, dan Sama Veda — dianggap sebagai Ibu Segala Weda, dilantunkan oleh umat Hindu di mana pun sebagai kewajiban. Bait kedua diambil dari Sloka Mahanarayana Upanisad, mewakili wahyu yang didengar langsung atau Sruti. Bait ketiga disusun dari naskah-naskah Smrti, pengetahuan yang diwariskan dan diingat. Dengan melantunkan ketiga bait ini, maka seolah-olah telah melantunkan seluruh Weda — Sruti maupun Smrti.
 
Sementara bait keempat, kelima, dan keenam merupakan ungkapan khas Bali: pengakuan atas kekurangan, permohonan ampun, dan niat untuk dimurnikan kembali. Bukan berarti kurang suci, melainkan berbeda sifat — ia adalah buah bakti dan kesadaran yang tumbuh di tanah ini. Sebaiknya dipahami dan didalami maknanya, agar melahirkan pencerahan. Demikian pula ungkapan yang dikenal sebagai Suddho Deva Eko, sebaiknya dikembalikan ke asalnya yang sejati: Sabbho Dewa Eka — yang mencerminkan kebenaran bahwa Yang Esa hadir di segala wujud.
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sugesti Bali dan Pertemuan Dua Cara Memahami Dunia

Di Antara Buku Tulisan Asli Dengan Tulisan Hasil Ai.

Kisah Jayapangus dan Kang Cing Wie Antara Sejarah Dan Legenda.