Tubuh yang Hidup dan Jiwa yang Kekal.

Tubuh yang Hidup dan Jiwa yang Kekal.
 
Ketika tubuh ini berakhir, kita dipanggil untuk membangun tubuh yang sejati, yang abadi. Sebab jika tidak ada wadah yang utuh, maka roh pun tak dapat tenang, seakan-akan masih melayang mencari tempat pulang. Sains mengenal hukum siklus — segala sesuatu berubah wujud, namun tidak pernah benar-benar hilang. Mati dan hidup hanyalah dua sisi dari perjalanan yang sama. Jika tubuh berpulang namun jiwa belum sungguh-sungguh hidup, maka ia tinggal menunggu waktu untuk kembali mewujud, melengkapi apa yang belum selesai.
 
Makna hidup yang sejati adalah ketika tubuh dan jiwa berjalan selaras, menyatu dalam tujuan yang luhur. Sebelum ada kehidupan, tak akan ada kematian. Kematian hadir karena kehidupan telah dijalani. Manusia terdiri dari dua unsur yang menyatu yaitu jasad yang tampak dan roh yang tersembunyi — lahir dan batin. Yang terlihat akan rusak dan kembali ke tanah, tetapi yang tak terlihat itu abadi, tak pernah mati, dan tak pernah berakhir.
 
Maka pertanyaannya bukan bagaimana tubuh tidak mati, melainkan bagaimana jiwa dapat sungguh-sungguh hidup. Bagaimana mengenali tanda-tandanya? Jiwa yang telah hidup tidak lagi dihantui ketakutan, tidak terikat pada benda yang fana, tidak tersiksa oleh kebencian, dan tidak tergoyahkan oleh pujian maupun cemoohan. Ia hidup karena telah menyadari siapa dirinya, dari mana ia berasal, dan ke mana ia akan kembali. Yang paling patut ditakuti bukan kematian tubuh, melainkan jiwa yang masih bernapas namun hatinya telah mati — tak mampu mengasihi, tak mampu memaafkan, dan tak mampu mengenal Tuhan di dalam diri sesamanya.
 
Dalam Bhagavad Gita 2.20 Khrisna berkata  "Ia tidak pernah lahir, tidak pernah mati, tidak pernah menjadi ada lalu tiada. Ia tidak lahir, kekal, abadi, dan purba. Ia tidak binasa ketika tubuh dibinasakan. Roh itu abadi, hanya jasad yang berubah wujud
Sementara dalam Bhagavad Gita 2.22 dijelaskan bahwa Seperti seseorang memakai pakaian baru dan meninggalkan yang lama, jiwa meninggalkan tubuh yang lama dan memasuki tubuh yang baru
Sedangkan dalam Lontar Kanda Pat dijelaskan bahwa Manusia terdiri dari raga dan atma; raga kembali ke tanah, atma kembali ke asalnya. Keduanya menyatu saat hidup, berpisah saat waktunya tiba
Kemudian dalam Lontar Manawa Dharma Sastra dijelaskan bahwa  Hidup sejati adalah ketika lahir dan batin sejalan; jiwa yang tidak hidup menurut dharma akan kembali berwujud untuk menyempurnakan tugasnya.
Dalam Upanishad / Katha Upanishad 2.2.3 dijelaskan bahwa  Yang terbuat dari pikiran tidak abadi, yang terbuat dari kesadaran sejati itu abadi.

Jiwa Ibarat Sopir Sejati Kehidupan.
 
Raga ibarat mobil atau  kendaraan yang membawa kita melangkah. Sedangkan Pikiran, kehendak, dan indra adalah setir, gas, dan rem — perangkat yang mengatur arah serta laju. Dan jiwa adalah sopir yang duduk di balik kemudi, yang memegang kendali sepenuhnya. Sopir yang bijak tahu kapan menambah tenaga saat menanjak, kapan mengerem saat menurun, tahu seberapa berat muatan yang dibawa agar mobil tidak rusak di tengah jalan. Demikian pula kita: harus mengenali batas raga dan pikiran, tidak memaksakan diri melebihi kemampuan, agar semuanya tetap sehat dan seimbang. Jika dipaksa, tubuh dan batin akan jatuh dan rapuh.
 
Setiap manusia memiliki kehendak bebas atas tindakannya, dan jiwa lah yang menentukan keputusan sesuai dengan tingkat kesadarannya. Dari keputusan itulah garis nasib kita terbentuk — apa yang ditabur, itulah yang dituai. Hukum sebab-akibat berjalan pasti, tidak terelakkan. Jiwa inilah yang menggerakkan segala sesuatu: energi kehidupan, pikiran, panca indra, hingga kecerdasan. Ia bukan sekadar penumpang, melainkan pengendali sejati.
 
Jiwa juga bertindak sebagai penganalisis yang menilai setiap gagasan dan dorongan yang muncul dari raga. Semakin matang pengalaman dan pengetahuannya, semakin bijak keputusan yang diambil, semakin terjaga kendaraannya. Ia adalah inti permata kehidupan, sumber utama yang menyuplai kekuatan sekaligus mengayomi seluruh unsur yang ada di dalam diri.
 
Ketika saatnya pulang tiba, akan terbuka pintu yang kini belum terlihat. Awalnya mungkin gelap, namun perlahan jalan akan tampak terang. Di hadapan cahaya itu, apa yang kita bawa dari perjalanan ini akan terlihat jelas — yang terang di depan, bayangan masa lalu tertinggal di belakang. Siapa kita sesungguhnya saat itu? Apakah kesadaran yang hidup kini, atau sosok lain yang telah kita bentuk selama ini?
 
Banyak orang memilih hidup dikuasai tiga sifat yang tak memberi ketenangan: amarah, keinginan tak terkendali, dan ketamakan. Padahal pesan leluhur sudah terngiang: bangunlah jiwanya, maka bangunlah badannya. Karena bukan kendaraan yang menentukan ke mana kita pergi, melainkan sopirnya. Jika jiwa telah terang, matang, dan bersih, ke mana pun ia membawa raga, jalannya akan selamat, tujuannya akan tercapai.
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sugesti Bali dan Pertemuan Dua Cara Memahami Dunia

Di Antara Buku Tulisan Asli Dengan Tulisan Hasil Ai.

Kisah Jayapangus dan Kang Cing Wie Antara Sejarah Dan Legenda.