Tuhan Tidak Terjangkau.

Tuhan Tidak Terjangkau.
 
Ketika seseorang yang mengaku tidak bertuhan masih bertanya tentang Tuhan, seringkali jawabannya tetap terbatas pada sudut pandang makhluk. Apa yang ditemukan pun bukan Tuhan sejati, melainkan bayangan diri sendiri yang diproyeksikan ke luar. Pemikiran yang hanya berputar dari sisi kemanusiaan tak akan pernah mencapai hakikat-Nya, karena ia selalu mengukur Yang Tak Terbatas dengan ukuran yang terbatas.
 
Berbeda dengan pandangan yang mengajarkan bahwa Tuhan tidak serupa dengan apa pun yang dapat dibayangkan atau dilihat — “Tidak ada sesuatu pun yang menyerupai-Nya.” Selama kita masih dapat menggambarkan, memberi sifat, atau membayangkan wujud-Nya, maka itu belumlah Dia. Tuhan tidak terwadahi oleh ruang, waktu, materi, maupun pikiran. Justru sebaliknya: alam semesta, pikiran, dan segala yang ada berada di dalam-Nya. Jika masih ada sesuatu yang mengurung-Nya, berarti yang kita sebut itu bukan Tuhan — karena Yang Maha Besar tidak dapat dibatasi oleh apa pun.
 
Namun beliau bukan jauh dan asing. Dikatakan lebih dekat daripada urat nadi di leher sendiri — bukan berada di tempat yang berjauhan, melainkan hadir di kedalaman diri yang paling dalam. Kehadiran-Nya meliputi segala yang tampak dan yang tersembunyi, yang dahulu dan yang akan datang, di mana-mana sekaligus. Ia tidak terbagi, tidak berpindah, tidak berubah.
 
Mencari-Nya ibarat seseorang yang berada di dalam sebuah bangunan yang tak bertepi, lalu mencoba menggambarkan bangunan itu sendiri. Tak ada tempat untuk berdiri di luar, sehingga yang tampak hanyalah sebagian yang dapat dipandang mata. Demikian pula ilmu pengetahuan: setiap penemuan justru membuka ruang ketidaktahuan yang lebih luas, mengingatkan bahwa di balik setiap jawaban, selalu ada misteri yang lebih dalam. Sains tidak akan pernah menjawab segalanya, karena yang dicari adalah yang menciptakan kemampuan mencari itu sendiri.
 
Pertanyaan "di mana", "kapan", atau "bagaimana" hanyalah milik makhluk yang terikat waktu dan tempat. Bagi Yang meliputi segala waktu dan tempat, pertanyaan-pertanyaan itu tidak lagi berlaku. Kita tidak dapat memahami-Nya dengan akal semata, namun hati yang jernih dapat merasakan kehadiran-Nya — dekat, menyatu, dan tak terpisahkan. Bukan sesuatu yang jauh di langit, melainkan sesuatu yang paling dekat, bahkan lebih dekat daripada diri kita sendiri.

Mencari Bukti Sampai ke Diri Sendiri.
 
Ketika diri mulai berkehendak mengenal Tuhan, ia pun memasuki pertanyaan yang jawabannya tak dapat dipenuhi sekadar dengan bukti yang dilihat mata. Apa yang didengar dan dibaca dari orang lain hanyalah jalan menuju keyakinan — keyakinan itu sungguh-sungguh milik kita hanya ketika buktinya telah sampai dan dirasakan di dalam diri sendiri. Kesaksian orang lain tidak dapat dipinjamkan; setiap perjalanan batin adalah perjalanan pribadi antara diri dan Yang Maha Esa.
 
Ada hal yang dapat dicapai dan dipahami dengan kemampuan akal dan penelitian, namun ada pula yang berada jauh di luar batas kemampuan manusia. Mengakui keterbatasan ini bukan berarti menyerah mencari, melainkan menyadari bahwa bukti kebenaran tetap ada dan wajar untuk dicari — tetapi bukti itu tidak selalu berbentuk apa yang dapat diukur atau ditunjukkan kepada orang lain. Yang diyakini haruslah yang benar, dan yang benar akan menyatakan buktinya dengan caranya sendiri.
 
Sama halnya seperti mengenal seseorang: sebelum memastikan orang itu sungguh ada dan adalah dirinya yang dikatakan, segala gambaran hanyalah dugaan. Tidak berbeda pula dengan mencari Tuhan. Banyak yang mencari bukti keberadaan-Nya pada alam, pada makhluk, pada buku, atau pada pikiran sendiri — namun bukankah bukti tentang seseorang seharusnya datang dari orang itu sendiri? Jika kita membaca buku tentang seseorang tanpa pernah bertemu orangnya, bagaimana dapat dipastikan tulisan itu mencerminkan dirinya yang sejati?
 
Bukti keberadaan manusia dan alam semesta memang mengarahkan kepada Yang Maha Dahulu, namun jika dijadikan satu-satunya bukti, argumen itu mudah dipatahkan — karena segala sesuatu di alam ini lahir, tumbuh, dan berubah. Yang dicari justru di luar segala perubahan itu. Orang berkata "ada karena ada yang lebih dahulu ada," tetapi bukti keberadaan Yang Pertama itu tidak dapat ditunjukkan oleh tangan manusia. Ia hanya dapat disaksikan ketika diri sendiri dipanggil dan dijumpai-Nya.
 
Maka janganlah berpuas diri dengan apa yang didengar dari orang lain atau dibaca di mana saja. Bukti sejati itu ada, dan Ia menyatakannya kepada siapa yang memenuhi syarat-Nya — hati yang tulus, kesadaran yang jernih, dan kerinduan yang sungguh-sungguh mencari-Nya. Saat itulah bukti itu sampai bukan dari luar, melainkan dari kedalaman diri sendiri, tempat di mana Ia selalu hadir dan tak pernah pergi.
 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sugesti Bali dan Pertemuan Dua Cara Memahami Dunia

Di Antara Buku Tulisan Asli Dengan Tulisan Hasil Ai.

Kisah Jayapangus dan Kang Cing Wie Antara Sejarah Dan Legenda.