Samudera di Dalam Diri.
Samudera di Dalam Diri
Samudera dan gelombang — perumpamaan yang indah untuk menggambarkan kedalaman jiwa manusia serta riak-riak yang mengganggunya. Samudera melambangkan ketenangan batin yang hakiki, sementara gelombang dan aliran sungai yang memasukinya adalah riak di permukaan yang datang dan pergi. Sebesar apa pun arus yang masuk, seganas apa pun ombak yang muncul, samudera yang dalam tak pernah meluap, tak pernah tergoyahkan. Ia tetap tenang di kedalamannya. Demikianlah orang yang bijaksana: di tengah derasnya arus keinginan, cobaan, dan emosi yang silih berganti, batinnya tetap tegak dan damai.
Gelombang itu ibarat dualitas dunia — untung dan rugi, pujian dan makian, suka dan duka. Semuanya sifatnya sementara, terus berubah, tak pernah menetap. Namun samudera di bawahnya tak tergoyah oleh pergantian itu. Ia adalah jiwa sejati, kesadaran murni yang tak terusik oleh apa pun yang melintas di permukaan. Ketika kemarahan, kesedihan, atau kecemasan muncul, hati yang matang mampu mengendalikannya — tidak ikut terseret arus, tidak ikut meledak bersama amarah. Perlahan-lahan rasa panik, kesombongan, dan keputusasaan tak lagi berkuasa menguasai diri.
Biarkan gelombang bergerak, biarkan air mengalir. Yang perlu dijaga adalah kedalaman itu — tetap tenang, tetap utuh, tetap menjadi diri sendiri. Karena di sanalah tempat pulang yang sejati.
Yang Ada, dan yang Memahami
Pada hakikatnya manusia sejak awal membawa kesadaran itu sendiri — bahwa kita hadir di dunia bukan atas kuasa diri sendiri. Pohon tumbuh, bintang bergerak, jantung berdetak — tak satu pun menghadirkan dirinya sendiri. Jika dibongkar satu per satu, tidak ada benda maupun makhluk yang menjadi pencipta bagi keberadaannya. Semua datang, semua berlalu, semuanya menerima keberadaan dari yang di luar dirinya. Dari sanalah lahir pertanyaan: Siapa yang ada di balik semua ini?
Ada pandangan yang menyatakan alam semesta ini tanpa awal dan tanpa akhir — proses yang berlangsung abadi, kesadaran yang terus berkembang. Jika ada permulaan, dikatakan, maka pasti ada akhir, ada kehancuran. Namun yang berubah itu pandangan manusia, bukan keberadaan Yang Satu. Pemahaman kita tumbuh, berganti, berkembang — itu yang berubah, bukan Dia.
Ilmu pun mempertanyakan: di mana letak kesadaran itu? Apakah di serabut saraf atau di jaringan otak? Namun memahami Yang Maha Besar dengan akal semata, ibarat mencoba menampung samudra dengan cangkir. Bukan berarti beliau tidak ada — melainkan akal itu sendiri terbatas. Tidak semua dapat dijangkau dengan logika semata. Maka dianjurkan bukan berhenti berpikir, melainkan melihat mereka yang telah melangkah lebih dulu, yang hidupnya mencerminkan kebenaran itu. Dari cara mereka berbuat, bersikap, dan berserah — di sanalah cahaya itu tampak.
Komentar
Posting Komentar