Antara Cuntaka Dan Sebel.

Antara Cuntaka Dan Sebel.
 
Setiap orang memiliki jalan keyakinannya masing-masing. Ada yang berpedoman pada kitab-kitab, lontar, dan ajaran tertulis, namun ada juga yang keyakinannya tumbuh dari pengalaman hidup dan tuntunan susunan yang dijalani — bukan berarti salah, hanya berbeda sumber pemahamannya. Tidak semua hal harus sama persis; yang satu boleh, yang lain menahan diri, keduanya tetap dalam kebenaran masing-masing.
 
Kematian adalah kodrat alami — lahir, hidup, dan mati adalah roda siklus yang harus dijalani. Maka seharusnya tidak ada yang disebut "sebel" hanya karena seseorang telah meninggal dunia. Yang patut disebut "sebel" adalah perbuatan yang melanggar norma agama dan hukum: selingkuh, memfitnah, merampok, membunuh, korupsi, membakar rumah orang, dan perbuatan jahat lainnya.
 
Lalu mengapa ada tradisi orang meninggal dianggap Sebel? Sebenarnya itu bukan "Sebel", melainkan Cuntaka — artinya seseorang dibebaskan dari kewajiban Ngayah ke pura untuk sementara waktu karena sedang berduka. Dalam masa Cuntaka, seseorang tidak disarankan ke pura atau melaksanakan Upakara, karena dalam sastra dikatakan: "Datanglah menghadap Tuhan dalam keadaan gembira dan tulus ikhlas." Kesedihan yang mendalam memang wajar membuat hati belum tenang untuk bersembahyang, bukan karena dilarang, melainkan karena ketulusan hati yang belum pulih.
 
Namun jika seseorang memahami kematian sebagai kodrat yang wajar, dan orang  semasa hidupnya penuh dengan bhakti dan kebajikan, kepergiannya adalah kelepasan dari penderitaan — maka kematian seperti itu adalah kegembiraan. Bagi yang hatinya sudah tenang, tidak perlu Cuntaka, apalagi merasa Sebel.
 
Apakah boleh menikmati  makanan yang disuguhkan oleh keluarga yang punya kematian saat Medelokan? Jika hati merasa nyaman untuk makan di rumah duka saat Medelokan, silakan. Jika hati merasa segan atau belum tenang, itu juga sah — bukan karena takhayul, melainkan karena kondisi batin masing-masing. Mau menerima makanan yang disuguhkan di rumah duka, boleh-boleh saja. Tidak mau atau tidak ingin, juga tidak apa apa.. Tidak perlu dipaksakan, tidak perlu saling menilai. Keyakinan itu tumbuh dari hati sendiri, dan ketenangan itu ukurannya ada di dalam diri kita masing-masing. 

Agama dan Tradisi yang Hidup.
 
Beragama seharusnya membuat kita semakin cerdas dan bijaksana dalam menyikapi segala hal yang ditawarkan oleh ajaran agama maupun budaya yang kita jalankan. Bukan sekadar meniru tanpa memahami maknanya, melainkan mampu menilai: setelah segala keyakinanmu dijalankan, perubahan apa yang kamu rasakan? 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sugesti Bali dan Pertemuan Dua Cara Memahami Dunia

Di Antara Buku Tulisan Asli Dengan Tulisan Hasil Ai.

Kisah Jayapangus dan Kang Cing Wie Antara Sejarah Dan Legenda.