Parisada Ibarat Payung, Bukan Tembok.
Parisada Ibarat Payung, Bukan Tembok.
Di tengah dinamika umat Hindu saat ini, muncul satu gagasan yang sangat penting: Parisada harus menjadi payung, bukan tembok. Pertanyaan paling mendasar yang perlu kita renungkan kembali adalah: untuk apa Parisada ada? Jawabannya sederhana — Parisada adalah payung seluruh umat Hindu. Hindu tidak lahir dari satu etnis, satu wilayah, satu bahasa, satu tradisi, apalagi satu tafsir tunggal. Sejarah Hindu membuktikan bahwa keragaman adalah kekuatan aslinya — berbagai Darśana, Sampradāya, Sāstra, tradisi, dan ekspresi spiritual tumbuh berdampingan, berdialog, bahkan berdebat, namun tetap satu dalam Dharma.
Jika perbedaan justru dijadikan alasan untuk saling mengeluarkan, mencurigai, dan memberi stigma, maka kita sedang mempertanyakan watak dasar Hindu itu sendiri. Kata Sampradāya bukan kata terlarang, bukan pula tuduhan. Setiap orang yang memiliki tradisi, guru, atau jalan spiritual yang berbeda tidak otomatis keliru. Jika istilah keagamaan dipakai untuk mendiskreditkan tanpa ukuran yang objektif, yang terjadi bukan pembinaan umat, melainkan pelabelan yang berbahaya — dan itu bisa berubah menjadi politik identitas di dalam rumah keagamaan sendiri. Tugas Parisada bukan memperbesar garis pemisah, melainkan mengelola perbedaan agar semua tetap berada dalam satu rumah.
Hindu bertahan ribuan tahun bukan karena semua orang selalu sepakat, melainkan karena Hindu memiliki ruang untuk berbeda. Ada prinsip kuno yang sangat berharga: Samvāda — dialog. Perdebatan filosofis, pertanyaan murid kepada guru, pertukaran pandangan antar-Mazhab, semuanya adalah bagian dari kekayaan tradisi kita. Itu bukan kelemahan, melainkan kekuatan peradaban Hindu. Jangan sampai di zaman modern ini kita justru menjadi lebih sempit daripada para leluhur spiritual kita sendiri.
Kritik tetap boleh dan harus dilakukan, namun kritik yang sehat menggunakan argumen, śāstra, prinsip dharma, dan ukuran yang objektif — bukan prasangka dan kecurigaan. Keyakinan yang kuat tidak perlu takut pada perbedaan. Kebenaran tidak butuh intimidasi. Dharma tidak butuh kebencian. Keyakinan yang tulus tidak butuh musuh. Biarkan perbedaan diuji dalam ruang yang terbuka dan bijaksana.
PHDI adalah wadah yang menaungi Hindu di Indonesia, yang menjalankan ritual dan tradisi sesuai dengan kearifan lokal Nusantara — tradisi di Bali berbeda dengan di Jawa, namun keduanya berakar pada Weda. Setiap bentuk pengamalan yang lahir dari niat tulus dan Karsa murni sudah murni adanya; tidak perlu ada istilah "pemurnian" yang justru menyempitkan ruang keberagaman. Perjuangan para pendahulu di tahun 1950-an mendaftarkan Hindu Bali agar diakui negara bukanlah untuk menyeragamkan, melainkan memberi ruang agar semua bentuk pengamalan yang berakar pada Weda dapat hidup berdampingan dengan hormat.
Persatuan tidak berarti keseragaman. Unity does not mean uniformity. Kita bisa berbeda dalam cara menuju yang sama, dan justru di situlah keindahannya. Berakar kuat, tetapi tetap terbuka. Memiliki identitas, tetapi tidak alergi terhadap perbedaan. Teguh pada keyakinan, tetapi tetap mampu berdialog. Itulah kedewasaan beragama yang sesungguhnya.
Sebab pada akhirnya: Satyam Eva Jayate — Kebenaranlah yang menang. Kalau kita sungguh percaya pada kebenaran yang kita yakini, mengapa harus takut pada dialog? Kalau Dharma memang benar, mengapa harus mempertahankannya dengan mencurigai sesama? Biarkan Samvāda berjalan, biarkan perbedaan saling memperkaya, dan biarkan waktu yang menyaring mana yang bertahan dalam kebenaran.
Komentar
Posting Komentar