Penempatan Pelinggih Lebuh Yang Benar.
Penempatan Pelinggih Lebuh Yang Benar.
Pelinggih Lebuh memiliki peran yang sangat penting dalam tata ruang pekarangan umat Hindu di Bali. Beliau adalah penjaga pintu masuk atau Pemedal Pekarangan, tempat bertemunya jalan umum dengan kediaman keluarga. Posisi yang tepat sangat diperhatikan, karena selain sebagai bentuk penghormatan, juga berkaitan dengan keseimbangan energi di lingkungan tempat tinggal kita.
Secara etimologi, kata "Lebuh" berasal dari akar kata Lebu yang berarti "masuk". Ada ungkapan lama: "Durung Melebu Wes Metu, nafsu besar tenaga kurang" — yang bermakna peringatan agar kita bijaksana dalam segala hal. Pelinggih Lebuh secara konotasi dikaitkan dengan sisi kiri, yang dalam Tatwa sering dikaitkan dengan sisi yang lebih menerima dan melindungi. Namun penggunaan istilah kanan dan kiri saja ternyata belum cukup akurat, karena tergantung dari arah mana kita berdiri — dari dalam Pekarangan atau dari luar. Oleh karena itu, para tetua dan pengetahuan leluhur lebih menyarankan menggunakan patokan Hulu dan Teben — arah mata angin — sebagai pedoman utama, karena lebih tetap dan tidak berubah. Setiap Pelinggih senantiasa mencari posisi Hulunya, dan Pelinggih Lebuh pun demikian.
Jika kita menggunakan pandangan dari dalam Pekarangan menghadap ke luar, maka Pelinggih Lebuh sepantasnya ditempatkan di sisi kanan pintu gerbang dari arah dalam. Itu berarti posisinya berada di sisi kiri jika dilihat dari jalan umum atau dari luar rumah. Posisi ini dimaksudkan agar beliau senantiasa berdiri tegak menjaga kedatangan dan kepergian penghuni rumah, serta menyaring segala pengaruh yang masuk dari luar, agar yang masuk ke dalam Pekarangan senantiasa hal-hal yang baik dan membawa kerahayuan bagi keluarga.
Namun demikian, kita juga menyadari kenyataan yang ada. Terutama di lingkungan perkotaan, ukuran lahan terbatas dan bentuk Pekarangan tidak selalu ideal. Jika kondisi lahan belum memungkinkan untuk penempatan yang ideal, lebih baik mendirikan Pelinggih Lebuh di tempat yang memungkinkan dengan sebaik-baiknya, daripada tidak mendirikannya sama sekali. Fleksibilitas tetap ada, yang terpenting adalah niat tulus, penghormatan yang layak, dan kesesuaian dengan kemampuan serta kondisi tempat masing-masing.
Komentar
Posting Komentar